NUIM HIDAYAT

Merenungi Al-Qur’an (6)

Alhamdulillah di pagi yang cerah ini kita dapat menyelesaikan shalat berjamaah di masjid. Shalat di masjid pahala sangat besar dan bisa menyatukan umat yang hatinya sering terbelah.

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (al Baqarah 4)

Kini kita bahas ciri orang yang bertakwa berikutnya, yaitu yakin akan adanya kehidupan akhirat. Kenapa percaya adanya akhirat itu sangat penting? Ya karena kehidupan kita di dunia ini sementara. Kita pasti nanti akan mengalami kehidupan akhirat. Kehidupan abadi setelah kematian.

Nabi Nuh yang umurnya lebih dari 950 tahun menyatakan bahwa kehidupan dunia ini ibarat seseorang yang masuk rumah dari pintu depan menuju pintu belakang. Rasulullah mengibaratkan kehidupan dunia ini hanya seperti air yang menetes di jari, ketika jari dicelupkan di lautan. Air di lautan itu adalah akhirat.

Suatu hari ketika Rasulullah bercengkerama dengan para sahabat, datanglah ‘seorang kafir Quraisy’ kepada Rasul. Ia menyatakan, hai Muhammad apakah mungkin tulang belulang yang telah hancur ini akan dihidupkan oleh Tuhanmu kembali? Rasul terdiam sejenak dan kemudian turunlah wahyu,

“Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan ia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin 78-79)

Mendengar jawaban yang menakjubkan ini, maka diamlah orang kafir itu.

Keberadaan akhirat ini adalah suatu hal yang pasti. ‘Tidak boleh ada keraguan pada diri kita’. Renungkanlah ayat Al-Qur’an ini,

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (al Baqarah 28)

Al-Qur’an memang kalimat-kalimatnya menakjubkan. Seperti ketika berbicara tentang adanya Tuhan (ada kaitan erat antara iman kepada Allah dan hari akhir), Al-Qur’an melafadzkannya dengan,

“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya? Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,” (al Waqiah 58-60)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?” (al Waqiah 63-64)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (al Waqiah 68-69)

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button