NUIM HIDAYAT

Merenungi Al-Qur’an (6)

Lihatlah bila yang dibudayakan adalah budaya riba, apalagi riba yang berlipat seperti banyaknya kasus kredit pinjaman online yang akhir-akhir ini nemimpa masyarakat. Yang terjadi adalah saling membenci. Yang meminjam benci kepada peminjam, karena harus mengembalikan uangnya berlipat. Peminjam juga benci kepada yang meminjami, karena nggak bayar-bayar pinjamannya.

Lihatlah bagaimana kejahatan-kejahatan bersatu di tempat pelacuran. Pemabuk, pelacur, pezina, pembunuh, perampok/pencuri (koruptor) dan lain-lain. Lihatlah bagaimana orang-orang shalih (suka berbuat baik), bersatu dalam tempat yang baik, masjid. Orang yang shalih, orang dermawan, pejabat yang shalih dan lain-lain.

Kesayangan Rasulullah, Sayidina Ali mengungkapkan, ”Sesungguhnya aku menakutkanmu dari dunia ini, karena ia manis dan hijau. Dikelilingi oleh hawa nafsu dan disukai sebab kenikmatannya yang segera. Ia menggugah rasa takjub dengan hal-hal kecil dan berhiaskan harapan-harapan palsu serta dihiasi dengan tipuan. Kenikmatannya tidak bertahan dan nestapanya tak dapat dielakkan. Ia menipu, memudaratkan, berubah-ubah, akan musnah, akan aus, akan hancur, akan habis, dan akan rusak. Bilamana ia mencapai ujung hawa nafsu dari orang-orang yang cenderung kepadanya dan merasa bahagia dengannya, kedudukan itu hanyalah seperti apa yang difirmankan Allah Swt. di dalam Al-Qur’an:

“Seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan, adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Kahfi 45)”

Sayidina Ali juga mengatakan, “Wahai manusia, yang paling aku takuti tentang engkau ada dua hal: bertindak menurut hawa nafsu dan mengulurkan angan-angan. Bertindak menurut hawa nafsu itu mencegah kebenaran; dan mengulurkan angan-angan itu membuat orang melupakan akhirat. Engkau harus tahu bahwa dunia ini sedang bergerak dengan cepat dan tak ada yang tertinggal darinya kecuali zarah-zarah terakhir, seperti ampas dari sebuah mangkuk yang telah dikosongkan oleh seseorang.

Berhati-hatilah! Dunia dan akhirat sedang mendekat, dan kedua-duanya mempunyai putra-putra, yakni pengikut. Engkau harus menjadi putra-putra akhirat, karena di Hari Pengadilan, setiap putra akan melekat pada ibunya. Hari ini adalah hari beramal dan tak ada perhitungan. Tetapi, hari esok adalah hari perhitungan dan tak akan ada kesempatan untuk beramal.”

Para ulama yang memiliki keyakinan yang kuat adanya kehidupan akhirat, tidak gentar dengan siksaan dunia yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Lihatlah bagaimana tegarnya Ibnu Taimiyah di penjara, juga Sayid Qutb, Hamka, Mohammad Natsir dan lain-lain. Para ulama itu ketika dipenjara justru melahirkan karya-karya yang monumental. Sayid Qutb dan Hamka misalnya melahirkan Tafsir Al-Qur’an yang dapat kita nikmati sampai sekarang.

Renungkanlah ayat-ayat berikut ini,

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (an Nisa’ 77)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran 85)

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai penggantimu). Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian. Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an Nisa’ 131-134)

“Sesungguhnya kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab terdahulu. (Yaitu) Kitab-Kitab Ibrahim dan Musa.” (al A’la 16-19)

Wallahu alimun hakim. []

Nuim Hidayat

Laman sebelumnya 1 2 3

Artikel Terkait

Back to top button