Misi Lawan ISIS Berakhir, Pasukan AS dan Inggris Resmi Angkat Kaki dari Irak
Pemerintah Irak telah menyatakan ISIS kalah secara militer pada 2017, meski pasukan koalisi tetap bertahan untuk mencegah kebangkitan kembali kelompok tersebut.
Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai bahwa operasi penanggulangan terorisme berkelanjutan oleh pasukan Irak membuat ISIS kini hanya menyisakan beberapa ratus kombatan yang tidak lagi mampu melakukan operasi canggih.
Selain tantangan ISIS, Pemerintah Irak juga berhadapan dengan pengaruh milisi yang didukung Iran.
Perdana Menteri Zaidi, yang menjabat sejak Mei, berjanji melucuti senjata kelompok-kelompok bersenjata tersebut dan menempatkan seluruh persenjataan di bawah kendali negara.
Namun, sejumlah faksi milisi kuat menentang rencana tersebut dan berpotensi memperluas pengaruh mereka setelah penarikan pasukan AS.
Sejak eskalasi konflik antara AS-Israel dan Iran meningkat awal tahun ini, pangkalan udara Irbil yang dihuni pasukan koalisi kerap menjadi sasaran serangan milisi.
Ratusan tentara North Atlantic Treaty Organization (NATO) yang ditempatkan di Baghdad telah lebih dahulu meninggalkan Irak pada Maret lalu akibat meningkatnya ketegangan kawasan.
Saat ketegangan memuncak, pangkalan koalisi di Irbil bahkan sempat diserang hingga 28 kali dalam sehari menggunakan drone dan rudal.
Personel Resimen Royal Air Force (RAF) Inggris dilaporkan berhasil menembak jatuh lebih dari 100 drone dalam enam pekan pertama eskalasi tersebut.
Kementerian Pertahanan Inggris menyampaikan apresiasi atas pengabdian ribuan personelnya yang terlibat dalam misi kontraterorisme di Irak.
Selama misi berlangsung, militer Inggris telah memberikan pelatihan dan bantuan teknis kepada lebih dari 111.000 anggota Pasukan Keamanan Irak serta 21.000 pasukan Peshmerga di Kurdistan.
Selain itu, armada RAF telah melaksanakan ribuan misi penerbangan dan menggempur lebih dari 2.300 target ISIS. RAF diperkirakan tetap melanjutkan patroli udara di wilayah tetangga, Suriah, untuk mencegah bangkitnya sel-sel baru ISIS.
Pentagon mengonfirmasi bahwa AS akan tetap menyediakan dukungan intelijen dan pelatihan khusus bagi militer Irak dari luar negeri.
Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan bahwa satuan tugas gabungan koalisi kini memindahkan basis operasinya ke Yordania.






