RESONANSI

Nasihat Tersirat Anwar Ibrahim kepada Indonesia

Sebagai orang Sumatra yang mengenali falsafah belum takilek lah tabayang saya memahami pidato Anwar Ibrahim di CT Corp Leadership Forum Indonesia tanggal 9 Desember itu sebagai sebuah nasihat kepada pemimpin negara sekarang dan pemimpin negara Indonesia yang akan datang silih berganti.

Anwar menggunakan bahasa mantik majaz dan balaghah yang tinggi dan bahasa diplomasi yang mantap dalam menasihati pemimpin Indonesia yang banyak hadir dalam acara tersebut. Ibarat menarik rambut dari tepung yang tak berserak dan rambut yang tak putus.

Secara kebetulan atau memang dirancang, nampak sekali bahwa Anwar mengenal penyakit dan obat yang sesuai untuk bangsa ini. Namun yang pasti sebagai seorang yang pernah menyertai program IIIT yang dipimpin oleh Anwar Ibrahim sampai ke Phuket Thailand, saya paham bahawa agenda Anwar bukan hanya Malaysia-Indonesia tetapi juga dunia Islam yang secara keseluruhan masih terpuruk yang diakibatkan oleh korupsi dan salah guna kuasa.

Anwar membahasakan dirinya sebagai seorang sahabat. Anwar memulai pidatonya dengan sejarah kedekatannya dengan para tokoh di Indonesia. Dia banyak menyanjung pemimpin negara sebagai adat seorang yang bertamu ke tempat orang lain. Dia tidak menamakan pidatonya dengan kuliah umum untuk menghindari jurang gap.

Ini karena sahabat yang baik menurut Islam adalah sahabat yang berani menasihati dengan kebenaran dan kesabaran.

Antara nasihat untuk para pemimpin sekarang dan pemimpin Indonesia akan datang adalah;

  1. Banggalah dengan identitas agamamu.

Anwar Ibrahim dengan bangga yakin percaya diri tanpa sungkan menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim sejati yang memulai pidatonya dengan Assalamualaikum, Hamdalah Shalawat dan sebagainya.

Bahkan dalam pidato seterusnya dia mengutip Qur’an dan Hadis sebagai sumber dalam ajaran Islam. Padahal di Malaysia hanya sekitar 64% yang beragama Islam dibandingkan di Indonesia sekitar 87% Muslim. Bukan salam satu Malaysia, salam Pancasila atau sebagainya.

  1. Fokuslah mengurus negara pada hal memperbaiki masalah ekonomi. Bukan pada masalah yang dibuat-buat yang tidak ada kaitannya dengan ekonomi.

Ini karena banyak masalah yang akan timbul jika rakyat miskin, menganggur, buta huruf karena menurut Hadis kemiskinan mendekatkan diri kepada kekufuran.

1 2 3 4 5Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button