NUIM HIDAYAT

Persahabatan 47 Tahun (2)

Oleh: Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)

Artikel-artikel M Natsir di dalam majalah Pembela Islam itu sangat menarik hati saya. Sayapun seorang pengarang. Tetapi saya bahwa karangan Natsir memberis saya bahan untuk hidup, sehingga saking tertariknya saya kepada tulisan-tulisannya itu, saya pun mencoba mengirim karangan kepada Pembela Islam dan karangan saya itu disambut baik dan dimuat dalam Pembela Islam.

Dari hubungan surat menyurat dan karang mengarang ini, sendirinya timbullah keinginan buat berjumpa. Sebelum berjumpa, situasi politik tanah air berubah cepat.

Bung Karno dibuang Belanda ke Endeh. Sesampai di Endeh langsung beliau berkirim surat kepada A Hassan, guru Persatuan Islam dan pengarang Pembela Islam. Isinya ialah beberapa pendapat beliau tentang Islam. Isi surat-surat itu amat menarik perhatian, sebab di dalamnya Bung Karno menyuarakan pendapatnya yang bersifat ’hervorming’ pembaharuan. Beliau tidak menyetujui taqlid, tetapi menganjurkan ijtihad. Beliau menyatakan kecenderungan kepada paham kepada Jamaluddin Al Afghany dan Mohammad Abduh.

Rupanya pengasingan beliau ke Endeh menyebabkan peluang yang banyak baginya untuk menyelidiki Islam. Surat-suratnya tiba di Bandung hampir tiap minggu. Pembela Islam tertarik mengeluarkan surat-surat itu dengan nama “Surat-Surat dari Endeh.”

Polisi pemerintah kolonial Belanda pun rupanya tidak banyak menyensor surat-surat itu, sebab tidak bicara soal-soal politik.

Di waktu “Surat-Surat dari Endeh” telah dicetak dengan seizing Bung Karno sendiri, waktu itulah pula cita-citaku tercapai datang ke Bandung, jadi tetamu dari Pembela Islam dan Persatuan Islam. Di waktu itulah saya mengenal A Hassan, Fakhruddin Al Khahiri dan lain-lain, terutama dengan M Natsir sendiri.

Di waktu itu saya bertemu seorang pemuda sebaya saya, tetapi lebih tampan dari saya. Wajahnya tenang, simpatik, selalu senyum dan berkaca mata. Tingginya sedang, sikapnya lemah lembut. Apabila kita bicara dengan dia, butir-butir pembicaraan kita beliau perhatikan dengan seksama, kemudian bila beliau tidak setuju, atau berlain pendapat, beliau nyatakan komentarnya, nampaknya sambil lalu, tetapi dengan tidak kita sadari komentarnya itu telah menyebabkan kita harus meninjau pendapat kita tadi dengan seksama.

Dari pertemuan pertama itu (Desember 1931), telah terasa hubungan yang akrab dan intim diantara kami, dengan saudara-saudara dari Persatuan Islam dan Pembela Islam pada umumnya dan dengan M Natsir pada khususnya. Yang menjadikan hubungan sangat padu terutama sekali ialah kesamaan paham tentang agama. Terutama paham Kaum Muda yang sedang hangat waktu itu. Amal-amalan agama tidak banyak berbeda, yang kedua adalah paham tentang Islam yang tidak perlu pakai dan itu.

Natsir mendapat pendidikan lanjutan atas di sekolah Belanda, yaitu dari AMS Bandung. Tetapi dalam hidupnya sehari-hari, hidup secara seorang santrilah yang banyak tertonjol. Kalau berbicara di hadapan umum, tidaklah bersifat agitatif, menggeledek dan mengguntur. Tetapi dengarkanlah ucapannya itu dengan tenang. Kian lama kian mendalam dan tidak akan membosankan. Karena semua berisi dan terarah.

Di kali yang lain pernah saya ke Bandung setelah dia berumah tangga. Saya menjadi tetamu dan bermalam di rumahnya. Di situpun tumbuh lagi kekaguman saya, karena kehidupan beragama, sembahyang di awal waktu dan kesederhanaan yang dapat dilihat lahir dan batin. Semuanya itu membuat lebih mesra hubungan kami.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

BACA JUGA
Close
Back to top button