NUIM HIDAYAT

Prabowo Lembek dalam Menghadapi Israel?

Sikap dan bahasa yang lunak yang digunakan Prabowo dalam menghadapi Israel ini bisa dikatakan kalimat kunci. Karena dalam politik internasional, bahasa adalah sinyal. Dan sinyal Indonesia hari ini adalah: Israel bukan lagi penjajah yang harus ditekan, tetapi mitra potensial yang perlu dikelola.

Pendukung sikap lunak terhadapa Israel sering berlindung di balik kata “kepentingan nasional” dan pragmatisme politik. Ini jelas-jelas sikap yang keliru. Konstitusi kita, UUD 1945 tidak pernah memerintahkan Indonesia untuk menukar prinsip dengan keuntungan.

Para founding fathers kita mempunyai sikap yang tegas terhadap Israel. Mantan Perdana Menteri RI, Mohammad Natsir, menegaskan, “Bangsa yang pernah dijajah tidak pantas bersikap netral terhadap penjajahan bangsa lain.”

Dalam konteks Palestina, sikap lunak adalah pengkhianatan halus terhadap amanat sejarah dan konstitusi.

Ulama besar Buya Hamka mengingatkan, “Tanpa keadilan, perdamaian hanyalah tipu daya politik.” Ulama besar Timur Tengah Syekh Yusuf al-Qaradawi menegaskan,“Bersikap lunak terhadap penjajah adalah pengkhianatan terhadap nilai keadilan.”

Sikap Prabowo yang lembek ini tidak bisa dilepaskan dari sikap keluarga dan jejaring globalnya, termasuk hubungannya dengan tokoh-tokoh Timur Tengah yang akomodatif terhadap Israel (seperti Raja Hussein dari Yordania).

Prabowo kini sedang berdiri di persimpangan sejarah. Apakah ia akan dikenang sebagai presiden yang menjaga garis moral Indonesia atau presiden yang mengubah Indonesia dari penentang penjajahan menjadi penonton kejahatan kemanusiaan. Sadarlah Prabowo. Wallahu alimun hakim. []

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button