Suriah Tahan Jenderal Era Assad yang Dituduh Lakukan Penumpasan Berdarah
Jakarta (Suaraislam.id)–Otoritas keamanan Suriah mengumumkan penangkapan seorang jenderal senior era rezim Bashar al-Assad yang dituduh terlibat dalam pembantaian massal serta penumpasan berdarah terhadap aksi unjuk rasa.
Pasukan Keamanan Dalam Negeri Suriah mengonfirmasi penangkapan bekas jenderal bintang dua, Mohammed Ali Durgham pada Senin (7/9/2026).
Durgham dituduh berpartisipasi dalam peristiwa Pembantaian Hama pada 1982 serta memberikan perintah langsung untuk menembaki demonstran tanpa senjata pada 2011.
Pemerintah baru Suriah yang dipimpin oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS) terus menggalakkan upaya penegakan hukum terhadap jajaran pejabat dan aparat yang menjalankan aksi brutal selama rezim Assad.
Pernyataan resmi pemerintah melabeli Durgham sebagai salah satu perwira menonjol di lingkaran militer rezim terdahulu.
Ia dituduh memberikan instruksi penembakan secara langsung terhadap warga sipil yang menggelar aksi protes di kawasan pinggiran Damaskus.
Durgham diketahui menjabat sebagai komandan lapangan pada Divisi Keempat Angkatan Bersenjata Suriah—yang dipimpin oleh saudara laki-laki Assad, Maher al-Assad—sepanjang periode 2009 hingga 2013.
Karier militernya bermula sebagai komandan regu dalam Brigadir Pertahanan saat peristiwa berdarah di Gubernuran Hama pada Februari 1982.
Dalam tragedi Pembantaian Hama yang diprakarsai oleh mantan presiden Hafez al-Assad tersebut, diperkirakan antara 10.000 hingga 40.000 warga sipil tewas selama pengepungan kota berlangsung.
Penangkapan Durgham menambah daftar panjang mantan pejabat keamanan yang diamankan sejak runtuhnya kekuasaan Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Sebelumnya, otoritas Suriah juga menahan mantan Mayor Jenderal Jalal Kamel Saqr atas keterlibatan dalam kejahatan perang dan penahanan sewenang-wenang. []
Sumber: Al Jazeera / AFP
