OPINIPARENTING

Roleplay: Wujud Nyata Krisis Ketahanan Keluarga

Krisis Ketahanan Keluarga

Fenomena roleplay menambah daftar panjang problematika generasi hari ini. Menjadi ancaman berbahaya bagi generasi. Mengantarkan generasi ke jurang kehancurannya. Tak ayal fenomena ini patut menjadi perhatian bersama, bukan sebaliknya menyalahkan salah satu pihak.

Muncul fenomena roleplay membuktikan betapa rapuhnya bangunan keluarga yang dibangun di atas pondasi sekularisme. Sekularisme yang tegak di atas asas pemisahan agama dari kehidupan, melahirkan tatanan keluarga yang berorientasi materi. Mengikis fitrah manusia. Menghilangkan fungsi dan peran keluarga sebagai pondasi peradaban manusia.

Sekularisme yang menginfeksi keluarga, menjadikan pendidikan agama dalam keluarga tak berjalan sempurna. Baik ayah maupun ibu hanya mencukupkan pendidikan agama sebatas ibadah mahdhah saja. Sedangkan di sekolah, pendidikan agama tidak memadai untuk mencetak generasi bertakwa dan berkepribadian Islam. Kondisi ini pun bertambah parah sebab dahsyatnya gempuran ide liberalisme yang merusak generasi. Alhasil, kerusakan generasi muda hari ini justru diawali dari keluarga.

Dalam naungan sekularisme, fungsi dan peran keluarga tidak berjalan di atas fitrahnya. Sosok ayah hanya berperan mencari nafkah saja. Mengabaikan perannya sebagai qawwam, yang tidak hanya melulu mencari nafkah, tapi memiliki kewajiban mendidik, membimbing dan melindungi anggota keluarga yang berada dalam naungannya. Alhasil lahir generasi fatherless, generasi yang kurang kasih sayang dan perhatian ayahnya.

Sementara itu, sosok ibu sebagai pendidik pertama dan utama anak-anaknya pun bergerser. Hari ini, para ibu disibukkan dengan upaya mencari nafkah. Tidak sedikit ibu bekerja karena tekanan ekonomi. Sedangkan sebagian yang lain termakan propaganda sesat ide kesetaraan gender ala kaum feminis.

Ibu yang bekerja akhirnya tak mampu menjalankan perannya secara optimal sebab kurangnya pemahaman agama. Fokus bekerja, sedangkan di sisi lain tidak punya rencana besar untuk mendidik anak-anaknya. Tak memiliki tujuan dan target besar untuk anaknya. Mendidik anak secara gamang, sebab kurang bekal ilmu dan tsaqofah. Tidak ada target, tidak ada rumusan, dan tidak ada evaluasi dalam mendidik anak. Seolah anak dibiarkan tumbuh dengan sendirinya.

Alhasil lahirlah generasi minim iman, emosional, labil dan rapuh mentalnya. Tidak hanya krisis kasih sayang dan perhatian, tapi juga krisis ruhani. Generasi yang tumbuh dalam pengaruh budaya bebas ala Barat. Generasi yang jiwanya lemah, terjangkiti oleh penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Sebab sekularisme tidak mampu menutup lubang besar dalam diri generasi, yang semestinya sesuai fitrahnya, seluruh potensi akal, naluri dan kebutuhan mendasarnya diatur oleh Al-Khaliq Al-Mudabbir.

Inilah gambaran generasi hari ini, rapuh dan mudah hancur dalam cengkeraman sekularisme-liberalisme. Kekosongan ruhani yang diciptakan sekularisme-liberalisme, mengantarkan generasi memenuhi fitrahnya dengan cara yang salah dan merusak. Dunia roleplay merupakan cerminan betapa generasi hari ini merindukan dekapan hangat keluarga, yang menjalankan fungsi dan perannya secara ideal.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button