INTERNASIONAL

Sambut Pemilu Palestina, Warga Gaza Hanya Inginkan Lapangan Kerja dan Keamanan

Menjelang pemilu nasional Palestina pertama dalam 20 tahun, masyarakat Gaza berharap dapat bangkit dari kehancuran akibat agresi Israel.

“Saya menyaksikan transparansi dan integritas yang tinggi. Itu seperti pesta demokrasi. Namun sayangnya, pengalaman indah itu tidak pernah terulang selama 20 tahun terakhir,” kenang Marwan.

Dua dekade berselang, kehidupannya berubah total. Rumah dan pabriknya hancur lebur pada Januari 2024 akibat gempuran perang. Kerja keras lebih dari 30 tahun lenyap seketika tanpa sisa.

“Setelah kehilangan rumah dan mata pencaharian, apa lagi yang Anda harapkan? Yang tersisa hanyalah harapan akan rekonstruksi, ketenangan, dan keamanan di negeri ini,” ujarnya.

Hal yang paling menyakitkan bagi Marwan adalah melihat anak-anaknya harus tinggal di dalam tenda-tenda pengungsian. Perang juga memaksanya kembali melakukan pekerjaan berat yang tidak pernah ia bayangkan di usianya saat ini, seperti mencari air dan memikulnya dari jarak jauh.

“Setelah bertahun-tahun, saya harus memikul air dari tempat yang jauh. Apakah saya akan terus berada dalam situasi seperti ini? Umur saya sekarang 53 tahun. Sepuluh tahun lagi saya masuk usia 60-an dan tidak akan sanggup lagi memikul beban ini,” keluhnya.

Marwan menilai kondisi yang serba sulit ini telah mengikis minat masyarakat terhadap panggung politik.

“Minat kami terhadap politik menurun, bukan karena tidak peduli, tetapi karena rasa frustrasi dan keputusasaan yang sudah menumpuk. Orang-orang kini hanya fokus pada bagaimana cara bertahan hidup dan mengamankan sesuap nasi,” tambahnya.

Prospek penyelenggaraan pemilu di tengah puing-puing kehancuran dan pengungsian massal membuat dirinya berada di antara harapan dan rasa skeptis.

“Terkadang saya merasa membicarakan pemilu saat ini hampir seperti lelucon, karena tidak ada syarat dan kondisi yang jelas untuk melaksanakannya,” kata Marwan.

Pemulihan Jadi Prioritas

Komisi Pemilihan Umum Pusat Palestina kini tengah bersiap menggelar pemungutan suara di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Gaza. Komisi memperkirakan sekitar 1,24 juta warga Palestina di Gaza memiliki hak pilih.

Direktur Regional Komisi Pemilihan Umum di Gaza, Jamil al-Khalidi, mengungkapkan bahwa proses pemilu menghadapi tantangan logistik dan keamanan yang sangat berat akibat masifnya skala kerusakan serta pengungsian warga. Pihaknya telah menyiapkan rencana darurat untuk memproduksi logistik pemilu secara lokal guna mengantisipasi jika Israel memblokir masuknya pasokan ke Gaza.

Analis politik sekaligus penulis asal Gaza, Iyad al-Qarra, menilai bahwa perang tidak sepenuhnya memadamkan ketertarikan warga terhadap politik, melainkan mengubah ekspektasi mereka terhadap fungsi politik itu sendiri.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button