Sambut Pemilu Palestina, Warga Gaza Hanya Inginkan Lapangan Kerja dan Keamanan
Menjelang pemilu nasional Palestina pertama dalam 20 tahun, masyarakat Gaza berharap dapat bangkit dari kehancuran akibat agresi Israel.
Deir el-Balah, Jalur Gaza (Suaraislam.id)— Ahmad Mohsen (24) duduk di sebuah toko penjual kartu akses internet prabayar di Deir el-Balah. Tiga tahun lalu, sebelum perang genosida Israel di Gaza meletus, ia membayangkan masa depan yang jauh berbeda. Ia telah lulus dari jurusan keperawatan dan sedang bersiap menyelesaikan prosedur lisensi profesinya. Ia bermimpi dapat bekerja di rumah sakit, melanjutkan studi magister, atau mengambil kursus spesialisasi.
Namun, kecamuk perang membelokkan arah hidupnya.
Pada bulan-bulan awal perang, Mohsen bekerja sebagai sukarelawan di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir el-Balah di tengah tumpukan korban luka dan tewas. Namun, ketiadaan gaji akhirnya memaksa dia mencari pekerjaan lain.
“Saya lelah dan tidak mendapat bayaran atas usaha saya. Karena itu, saya mulai mencari pekerjaan lain yang setidaknya bisa memberikan penghasilan kecil,” tuturnya.
Pemilihan legislatif Palestina mendatang yang dijadwalkan pada 28 November akan menjadi pemilu nasional pertama bagi Mohsen, sekaligus pemilu legislatif pertama di Palestina sejak 2006. Mohsen memiliki prioritas yang jelas: ia ingin para kandidat menyelesaikan permasalahan pemuda generasinya, termasuk pengangguran, jaminan keamanan, perumahan, pendidikan, dan layanan kesehatan.
“Hal utama yang saya inginkan adalah pekerjaan stabil dengan gaji yang layak agar saya bisa menopang diri sendiri dan keluarga. Yang kedua adalah kepastian keamanan,” kata Mohsen.
Kekhawatiran Mohsen mencerminkan keresahan umum warga Palestina di Gaza, tempat tingkat pengangguran kini menembus angka 80 persen. Perekonomian wilayah kantong tersebut hancur total akibat blokade bertahun-tahun serta agresi militer Israel yang telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina.
Keluarganya memiliki sebidang tanah di sebelah timur Jalan Salah al-Din, Gaza—sebuah area yang ditutup rapat oleh tentara Israel sehingga ia tidak dapat mengaksesnya. Ia berharap, sesuai perjanjian gencatan senjata Oktober 2025, Israel dapat segera menarik pasukannya agar proses rekonstruksi wilayah yang hancur bisa dimulai.
Bagi Mohsen, pemilu tidak akan berarti jika tidak membawa perbaikan nyata dalam kehidupan rakyat.
“Seorang kandidat harus menempatkan dirinya di posisi rakyat dan berbicara atas nama rakyat, bukan menyuarakan kepentingan lain. Mereka harus mewakili kami, anak-anak muda yang telah dizalimi selama 20 tahun oleh perang dan kehancuran. Semua ini harus dihentikan,” tegasnya.
Kenangan Demokrasi
Berbeda dengan Mohsen, Ghassan Marwan (53) masih menyimpan memori tentang pemilu 2006 yang dimenangkan oleh Hamas.
Marwan dulunya bekerja sebagai pengrajin emas dan sempat mendirikan pabrik yang menjadi sumber penghasilan utamanya.
Ketika mendatangi TPS pada 2006, ia berharap pemilu dapat memperbaiki taraf hidup, menyediakan keamanan dan lapangan kerja, serta memberi masa depan yang stabil bagi anak-anaknya. Ia ingat betul saat memberikan suara di sebuah sekolah di Nuseirat untuk daftar calon yang dipimpin politisi independen Mustafa Barghouti. Pengalaman itu dirasakannya sangat transparan dan adil.






