OPINI

Siklon, Kota, dan Kerentanan Kita

Bencana Baru, Tantangan Lama: Respons dan Sistem Mitigasi

Respons terhadap bencana yang berlangsung pada November 2025 memperlihatkan bahwa struktur penanggulangan darurat di Sumbar telah aktif: Pemerintah Provinsi menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, relawan, aparat, dan lembaga kebencanaan berkampanye intensif lewat media massa, media sosial, serta koordinasi lapangan.

Namun peristiwa ini sekali lagi menunjukkan bahwa respons tanggap darurat saja tidak cukup. Ketergantungan pada reaksi darurat tanpa mitigasi struktural — seperti normalisasi sungai, drainase kota, pengaturan pemukiman dan tata guna lahan — hanya menunda bencana berikutnya. Saat atmosfer dan iklim terus berubah secara dinamis, sistem kota juga harus berubah.

Dibutuhkan perencanaan ulang: pemetaan zona rawan, pembatasan pembangunan di dataran rendah, revitalisasi sistem drainase, ruang terbuka hijau, hingga sistem peringatan dini terpadu berbasis meteorologi dan hidrologi. Tanpa itu, setiap hujan ekstrem adalah hitungan mundur.

Refleksi Akademik: Pelajaran Iklim, Kota, dan Kesinambungan

Tragedi banjir di Padang akhir November 2025 tidak bisa dibaca sebagai fenomena tunggal. Ia harus dipahami dalam kerangka besar: interaksi variabilitas iklim global (IOD, vortex Samudra Hindia, sirkulasi atmosfer) dengan kerentanan lokal (tata ruang, infrastruktur, perencanaan kota), serta kapasitas adaptasi sosial-institusional.

Sebuah studi fenomenologis — misalnya dengan metode kualitatif plus analisis spasial — bisa menggali bagaimana warga di kawasan rawan memahami risiko, bagaimana adaptasi tradisional dan modern berjalan, serta di mana titik lemah sistem mitigasi. Kombinasinya dengan data iklim (curah hujan, kelembapan, SST, pola angin) dan peta spasial (topografi, aliran sungai, penggunaan lahan) akan memberi fondasi ilmiah bagi rekomendasi kebijakan.

Dalam perspektif jangka panjang, perubahan iklim dan variabilitas cuaca ekstrem mengharuskan: transformasi tata kota dan perencanaan wilayah di daerah rawan, penataan ulang permukiman, dan kesiapsiagaan sistemik — bukan hanya untuk mengatasi klimaks bencana, tetapi membangun ketahanan (resilience) kota dan masyarakat.

Padang, dengan sejarah dan geografisnya, kini di persimpangan: terus membangun, atau terus bertahan dalam ancaman. Pilihan itu perlu didasarkan pada data, ilmu, dan keberanian merombak kebiasaan perencanaan lama.[]

*Dosen Fakultas Teknik Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button