SILATURAHIM

Singa Itu Telah Berpulang

Di kalangan militer, saya cukup dekat dengan Kassospol ABRI dan kemudian KSAD Jenderal Hartono, juga Letjen Sjarwan Hamid dan Asistennya Mayjen Suwarno Adiwidjojo. Saya juga sering ikut berdiskusi di CPDS, lembaga think tank yang dibentuk Mas Prabowo dan kawan-kawan menjelang reformasi di jalan Suwiryo, Menteng, Jakarta Pusat. Klik mereka ini sering disebut sebagai gang ABRI Hijau. Tapi di sisi lain, saya juga cukup dekat dengan mantan KSAD Jenderal TNI Rudini, Mantan Aspam KSAD Letjen Farid Zainuddin, Kassospol ABRI Susilo Bambang Yudhoyono, dan juga mantan Kepala Staf Teritorial, Letjen TNI Agus Widjojo. Padahal mereka sering dikelompokkan sebagai ABRI Merah Putih.

Dari kedekatan saya pada kedua kelompok itu, Kelompok Islam dan Nasionalis, saya bisa mendapatkan dua sisi yang seimbang pada saat saya menulis sebagai wartawan. Sebagai reporter dan kemudian penanggung jawab rubrik Nasional di Majalah Forum, maupun Redaktur Politik di Koran Tempo dan Majalah Tempo, saya biasa menulis dengan menyusun mosaik yang lengkap tentang peristiwa politik yang terjadi. Karena itu tulisan tetap tajam, namun tetap seimbang karena dapat menampilkan detail peristiwa dari semua sisi, dan tidak menyudutkan salah satu pihak saja. Secara pribadi, saya pun bisa memfilter, mana yang menjadi sikap saya.

Dari pertemuan-pertemuan di rumah Kiai Rasyid, kemudian lahir Forum Umat Islam (FUI) yang diketuai Ustadz Mashadi, mantan anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan (sekarang FPKS, red) dan Ustadz Muhammad Al Khathtath sebagai Sekretaris Jenderalnya. Dari situ lalu muncul ide untuk membuat Tabloid Suara Islam. Pak Mashadi menjadi Pemimpin Redaksi, didampingi Mas Aru sebagai Wakil Pemimpin Redaksi. Kedua lelaki berjenggot lebat itu ternyata sahabat lama. Sebelum aktif di Jamaah Tarbiyah dan menjadi salah satu pendiri Partai Keadilan, Pak Mashadi juga aktif di DDII, dan bahkan pernah menjadi sekretaris mantan Menteri Luar Negeri Pak Mohammad Roem. Saya yang saat itu sudah di ANTV kemudian sering dimintai bantuan untuk menulis di tabloid itu.

Pak Mashadi dan Mas Aru adalah pribadi yang hampir mirip. Keduanya sama-sama keras, impulsif, emosional, tapi gampang terharu, dan setia kawan. Kadang mereka bisa berdebat keras, tapi buru-buru guyonan lagi. Pak Mashadi biasa memanggil Mas Aru dengan sapaan khas, “Dul…” Mungkin singkatan dari Assadullah, nama belakang Mas Aru. Kalau sedang naik motor di jalan, dua-duanya lebih mirip raja jalanan yang dikit-dikit menggeber gas. Jadi kalau membonceng mereka, saya harus selalu pegangan kuat agar tidak terjengkang ke belakang.

Rapat redaksi Tabloid Suara Islam sekitar tahun 2009 di Menteng, Jakarta Pusat. [Foto: SI]

Sesekali mereka pasti akan sangat cerewet mengomentari pengendara lain yang bermanuver serampangan. Padahal menurut pendapat saya, cara berkendara mereka juga gradag-grudug dan sering membahayakan pengendara lain. Nah, begitu turun dari kendaraan dan bertemu dengan orang yang sudah dikenal atau mereka hormati, keduanya langsung berubah jadi orang yang sangat santun. Tapi jangan tanya kalau melihat kezaliman di depan mata. Mereka akan langsung mendamprat si pelaku tanpa tedeng aling-aling.

Suatu saat, sekitar tahun 1998, Mas Aru sedang memarkirkan motornya di pinggir jalan untuk memilih-milih durian yang akan dibelinya. Tiba-tiba satu truk penuh tentara berhenti di dekatnya. Beberapa orang prajurit turun, dan juga memilih-milih durian.

“Pak ini aku bawa ya,” kata beberapa prajurit itu tanpa membayar harga durian, dan mulai naik truk satu per satu.

Sekitar 10 durian sudah ditenteng, sementara pedagang durian yang dagangannya masih belum banyak yang laku itu hanya bisa cengar-cengir ketakutan.

Melihat adegan itu, secara spontan Mas Aru langsung berteriak keras. “Heh, kalian semua bajingan ya, ini rakyat miskin, bukannya kalian bantu, tapi kalian malah ngambil sembarangan, nggak bayar. Balikin!!”

Entah mengapa para tentara itu nurut dan mengembalikan durian-durian itu kepada si pedagang durian. Saya tidak tahu, apakah karena mereka kaget pada keberanian lelaki tinggi besar dengan berewok dan jenggot sangar itu, atau karena pengaruh gelombang reformasi saat itu. Tapi yang pasti, memaki tentara satu truk adalah suatu pekerjaan yang sangat menantang maut.

Mas Aru ternyata juga dekat dengan beberapa pejabat pemerintah sejak jaman Orde Baru, seperti Menko Kesra Azwar Anas, Menteri Agama Tarmizi Taher, Ketua Umum PP Muhammadiyah sejak jaman Pak AR Fachruddin hingga saat ini, banyak anggota DPR, juga beberapa pejabat militer seperti Mas Prabowo Subianto, Mayjen Muchdi PR, Letjen Sjafrie Sjamsoeddin, juga Wakil Ketua DPR Fadli Zon, dan pejabat pemerintahan lainnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button