NUIM HIDAYAT

Soekarno, Pelacuran dan G30S PKI (Bag-3)

Akibat tekanan bahkan pengejaran PKI dan kekuatan kiri lainnya, para seniman penandatangan Manifes Kebudayaan, di Jakarta maupun di daerah-daerah, tidak bisa mengumumkan karya mereka dengan menggunakan nama sebenarnya.

Saya ingat penyair dan penulis esai Goenawan Mohamad, penyair Taufiq Ismail, kolumnis budaya dan politik Wiratmo Sukito, semua terpaksa menulis dengan menggunakan nama samaran. Buku-buku para seniman yang dituduh PKI sebagai Manikebuis dilarang beredar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang waktu itu dipimpin Prof. Dr. Priyono. Sejatinya Priyono adalah orang Murba, tapi langkah-langkahnya waktu itu sulit dibedakan dari tingkah laku politik orang-orang komunis. Mungkin karena itu dia mendapat bintang Stalin dari Moskow.”

Keterlibatan Soekarno dalam pemberontakan Gerakan 30 September 1965, masih menjadi pertanyaan. Menurut Victor M Fic dalam bukunya Kudeta 1 Oktober 1965, Soekarno tahu tentang kejadian pembunuhan para jenderal itu. Fic mencatat bahwa pada 30 September 1965 di depan Musyawarah Besar Teknisi di Istora Senayan Jakarta, Soekarno mengungkapkan tentang adanya kejadian besar di malam nanti. Pidato Soekarno itu berlangsung beberapa jam sebelum Letkol Untung memulai Gerakan 30 September 1965.

Berikut kutipan pidato Soekarno, ”Ini cerita Mahabharata ada pertentangan yang hebat antara dua negara, negara Hastina dengan negara milik Pendawa. Dua negara ini konflik hebat. Tetapi pimpinan-pimpinan dan panglima-panglima Hastina itu sebenarnya masih keluarga dari pemimpin-pemimpin dan panglima-panglima Pendawa. Jadi masih saudara satu sama lain. Arjuna yang harus mempertahankan negara Pendawa, yang harus bertempur dengan orang-orang Hastina. Arjuna berat dia punya hati karena ia melihat di barisan tentara Hastina itu banyak ipar-iparnya karena istri Arjuna itu banyak lho! Bahkan gurunya ada di sana, guru peperangan yaitu Durno ada di sana.

Arjuna lemas, lemas, lemas. Bagaimana aku harus membunuh kawan lamaku sendiri. Bagaimana aku harus membunuh saudara kandungku sendiri, karena Suryoputro sebetulnya keluar dari satu ibu. Arjuna lemas, Kreshna memberi nasihat kepadanya. Arjuna, Arjuna, Arjuna engkau ini ksatria. Tugas ksatria adalah berjuan. Tugas ksatria adalah bertempur bila perlu. Tugas ksatria adalah menyelamatkan, mempertahankan tanah airnya. Ini adalah tugas ksatria. Ya benar di sana ada engkau punya saudara sendiri. Engkau punya guru sendiri. Mereka itu mau menggempur negeri Pendawa, gempur mereka kembali. Itu adalah tugas kewajiban tanpa hitung-hitung atau rugi. Kewajiban kerjakan.”

Menurut Fic, pidato Soekarno itu memberi kesan yang kuat bagi kelompok Untung untuk segera melakukan aksinya. Fic berpendapat bahwa kelompok Untung bergerak atas perintah Soekarno, dan Aidit (atas instruksi Mao Tse Tung) memboncengi tindakan pembersihan terhadap pimpinan Angkatan Darat tersebut untuk menuju transformasi sosialisme bagi Indonesia.

Menurut Antonie Dake dalam bukunya “Soekarno File”, menambahkan bahwa pada bagian akhir pidato, Presiden Soekarno berpesan,”Saudara-saudara sekarang boleh pulang tidur dan istirahat. Sedangkan Bapak masih harus bekerja menyelesaikan soal-soal yang berat, mungkin sampai jauh malam nanti…” (Lihat buku Bung Karno, Nawaksara dan G30S, Arifin (penyunting), Media Pressindo, Jakarta, 2019).

Pada 1 Oktober 1965 tengah malam, Soekarno membuat pengumuman resmi pemerintah, yaitu:

“Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia/ Pemimpin Besar Revolusi mengumumkan sebagai berikut:

  1. Kami Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/ Pemimpin Besar Revolusi dengan ini mengumumkan:

Bahwa kami berada dalam keadaan sehat wal afiat dan tetap memegang pimpinan negara dan revolusi.

Bahwa Pimpinan Angkatan Darat sementara berada langsung dalam tangan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.

Bahwa untuk melaksanakan tugas sehari-hari dalam Angkatan Darat ditunjuk sementara Mayor Jenderal TNI Pranoto Reksosamodra, Asisten III Menteri/Pangad.

  1. Kepada seluruh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, saya perintahkan untuk mempertinggi kesiap-siagaan kembali dan tinggal di pos masing-masing dan hanya bergerak atas perintah.
  2. Diperintahkan kepada seluruh rakyat untuk tetap tenang meningkatkan kewaspadaan dan memelihara kesatuan dan persatuan nasional sekompak-kompaknya.

Dikeluarkan di: Jakarta
Tanggal: 1 Oktober 1965

Angkatan Bersenjata/Pemimpin Besar Revolusi

Ttd
Soekarno“.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button