Warga Palestina Tak Toleransi Penimbunan dan Laba Perang di Gaza
Amarah publik meningkat terhadap para penjarah dan pedagang yang mengambil untung dari penderitaan rakyat. Tindakan mereka dianggap sebagai bentuk pengkhianatan.
Dalam setiap konflik selalu ada pasar gelap dan pihak-pihak yang meraup laba. Tapi dalam konflik ini, kekuatan pendudukan justru mendorong aktivitas kriminal tersebut. Bukan karena mereka memperoleh uang darinya, melainkan karena hal itu membantu mencapai tujuan mereka: menciptakan kekacauan total.
Warga Palestina yang ikut dalam eksploitasi ini termotivasi oleh keserakahan, pemerasan, atau sekadar untuk bertahan hidup.
Pecahnya tatanan sosial ini adalah apa yang diinginkan oleh pendudukan sejak awal. Mereka menginginkan kekacauan di jalanan Gaza agar media Israel dan internasional bisa dengan cepat menyalahkan rakyat Palestina dan berkata: “Lihat, mereka saling menghancurkan. Mereka tidak mampu memerintah. Mereka tidak layak punya negara.” Padahal kenyataannya, ini bukan tanda kegagalan bangsa, melainkan keberhasilan pendudukan dalam menggiringnya ke jurang kehancuran.
Bukan rakyat yang kehilangan kendali—kendali itu telah direbut secara paksa dari mereka: lewat kelaparan, penghancuran sistem kesehatan dan sanitasi, pembubaran lembaga negara, dan penguatan kelompok kriminal.
Namun Gaza tidak akan hancur. Meski rakyat marah, putus asa, dan terus berteriak, mereka masih memegang kompas moral. Teriakan bersama ini bukanlah konflik internal, tapi peringatan tegas: masyarakat tidak akan lagi mentolerir pengkhianatan. Mereka yang menaikkan harga secara kejam saat pengepungan adalah pengkhianat—dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan keadilan ketika Gaza dibangun kembali.
Pendudukan boleh saja menikmati kehancuran ini saat ini, tapi keliru jika menganggap bahwa mereka telah mengalahkan rakyat Palestina. Setiap krisis melahirkan kesadaran baru. Setiap pengkhianatan menyalakan semangat perlawanan baru. Mayoritas rakyat Palestina menolak menjadi alat di tangan para penyiksa mereka. Mereka menolak tunduk dan dilenyapkan. Mereka menolak mengeksploitasi dan menyakiti sesama warga.
Solidaritas nasional Palestina masih hidup. []
Nuim Hidayat
Sumber: AL JAZEERA






