16 Tentara Israel Tewas dan 690 Terluka dalam Perang Melawan Iran dan Lebanon

Yerusalem (SI Online) – Enam belas tentara Israel tewas dan 690 lainnya terluka sejak 28 Februari dalam serangan yang terkait dengan Iran dan Lebanon, menurut data militer yang dirilis pada Ahad (19/4/2026).
Militer menyebutkan bahwa 690 tentara terluka, termasuk 96 orang luka berat dan 42 dalam kondisi kritis, sementara sisanya mengalami luka sedang atau ringan. Ditambahkan bahwa 149 tentara masih dirawat di rumah sakit.
Dalam 24 jam terakhir, 37 tentara terluka, sebagian besar “akibat perangkat peledak,” kata militer tanpa merinci lokasi kejadian.
Angka-angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen, karena Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap informasi terkait dampak serangan oleh Iran dan Hizbullah.
Sebelumnya pada Ahad, surat kabar Maariv melaporkan bahwa dua tentara Israel tewas dan 12 lainnya terluka dalam dua insiden terpisah yang disebabkan oleh perangkat peledak di wilayah yang disebut “Garis Kuning” di Lebanon selatan.
Media Israel menggambarkan garis tersebut sebagai batas tidak resmi yang membentang sekitar 4 hingga 10 kilometer di dalam wilayah Lebanon sepanjang perbatasan yang dikenal sebagai “Garis Biru”.
Maariv menyebutkan bahwa “ancaman bom pinggir jalan di Lebanon telah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap prajurit dan setiap unit yang beroperasi di selatan selama tahun 1980-an dan 1990-an, ketika tentara Israel terjebak dalam konflik berkepanjangan di Lebanon.”
Konflik saat ini meningkat setelah kampanye militer Amerika Serikat–Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan meluas ke Lebanon pada 2 Maret, dengan Iran dan Hizbullah merespons menggunakan rudal dan drone yang menargetkan posisi Israel, serta serangan terhadap pangkalan dan kepentingan AS di kawasan tersebut.
Gencatan senjata selama dua minggu antara Washington dan Teheran mulai berlaku pada 8 April, meskipun belum ada kesepakatan final untuk mengakhiri perang, sementara Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata terpisah selama 10 hari di Lebanon.
sumber: anadolu






