Mencoba Memahami Prabowo
Hari hari ini aku gelisah. Mengapa presidenku kok bersikap lunak kepada Trump. Ia gak pernah mengecam Trump. Di saat pertemuan di Davos Swiss ia juga tak kecam Trump, padahal banyak pimpinan pimpinan negara Eropa mengecamnya.
Aku ketemu jawabannya tadi pagi. Trump telah investasi triliunan ke Indonesia dan mungkin akan tambah lagi investasinya.
Pertanyaan berikutnya kenapa Prabowo juga tidak berani kecam Israel atau Netanyahu. Di PBB tahun lalu ketika banyak kepala negara mengecam habis Netanyahu, Prabowo malah menyatakan bahwa Israel harus dijaga keamanannya. Aku bingung kenapa Israel? Israel keamanannya udah hebat dan dibantu Amerika lagi yang nggak dijamin keamanannya itu Palestina. Ketika Netanyahu membantai Muslim Gaza lebih dari 70 ribu tidak ada dunia yang membelanya. Termasuk dunia Islam. Semua hanya menjadi penonton. Amerika lebih jahat lagi karena ketika Israel melakukan genosida itu, Amerika terus kirim senjata ke Israel.
Yang menggelikan lagi ketika di sidang PBB itu Prabowo mengucapkan salam Yahudi shalom. Sehingga Netanyahu dan media Israel bersorak dengan sikap Prabowo tadi.
Aku bingung lihat sikapnya. Kutebak tebak apakah sikapnya yang lunak kepada Israel itu karena Indonesia punya hubungan dagang dengan Israel? Padahal nilai perdagangan dengan Israel itu hanya 0,05 persen.
Meski kecil nilai perdagangan Israel jangan jangan yang memegang kendali ekspor impor dengan Israel itu orang kuat di negeri ini sehingga Prabowo tidak berani melawannya.
Banyak pengamat menyatakan bahwa Prabowo itu sikapnya kompromistis sehingga jangan berharap ia berapi api pidato melawan Amerika dan Israel. Bukankah kepentingan nasional lebih didahulukan daripada kepentingan lainnya? Ia mungkin khawatir kalau mengecam keras Israel hubungan dagang itu akan berhenti.
Repot memang kalau uang sudah jadi berhala. Itulah bedanya seorang pejuang dan seorang pecundang. Seorang pejuang yang dipegang adalah nilai kebenaran, uang nomer sekian. Seorang pecundang mempunyai pedoman uang nomer satu, nilai nomer sekian.
Pilpres 2014 dan 2019 aku dan teman teman dukung Prabowo karena saat itu lawannya adalah Jokowi yang jelas di belakangnya banyak tokoh Islamofobia. Banyak tulisanku saat itu mendukung Prabowo dan aku tidak menyesal.
Pilpres 2024 aku dan teman teman dukung Anies. Mungkin kalau saat itu dukung Prabowo mungkin sudah dapat uang berlimpah. Tapi aku tidak menyesal dukung Anies meski kalah. Aku pernah membaca sebuah buku, bahwa kalau memilih pemimpin itu harus yang terbaik. Kalau tidak, berarti mengkhianati Allah dan RasulNya. Aku melihat Anies lebih baik daripada Prabowo, baik intelektualnya, kemampuan manajemennya dan agamanya.
Aku berhatap agar suatu saat Prabowo bersikap tegas terhadap Israel. Kalau kepada Amerika sikapnya yang lunak dapat dipahami. Tetapi sikap lunak kepada Israel aku tidak memahaminya. Nilai perdagangan Israel yang kecil itu seharusnya tidak mengalahkan kepentingan masyarakat umum yang lebih besar. Bahkan kalau Prabowo berani memutuskan hubungan dagang dengan Israel, negara negara Timteng atau Eropa munfkin akan lebih banyak lagi investasinya di Indonesia.
Kepada Amerika pun harusnya tetap kritis dan bukan membebek terus, karena di dalam negaranya sendiri Trump juga banyak musuhnya.
Kepada teman temen yang menyerukan khilafah karena huru hara ini saya berharap sabar. Menegakkan khilafah itu tidak mudah, para pimpinan di dunia Islam kebanyakan otoriter dan mempunyai pemahaman Islam yang dangkal. Saya setuju dengan konsep Imam Hasan al Bana tentang khilafah yang merupakan gabungan negeri negeri Islam. Hasan al Bana juga tidak menolak adanya nasionalisme, asal nasionalisme itu dijiwai Islam.
Jadi marilah kita masing masing berjuang menegakkan nilai nilai Islam di dalam negeri masing masing. Suatu saat saya yakin akan muncul pemimpin Islam yang hebat yang dapat menyatukan negeri negeri Islam itu. Kapan itu, hanya Allah yang tahu. Wallahu alimun hakim. []
Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.






