Penjajahan Israel, Akar Masalah Utama Krisis Kesehatan di Palestina
Oleh: Dr. Javid Abdelmoneim (Presiden Internasional MSF)
Di Gaza maupun di Tepi Barat, kebijakan Israel menghancurkan kesehatan warga Palestina dengan konsekuensi yang mematikan.
Dampak kumulatif dari tindakan Israel terhadap penduduk Palestina sejak 7 Oktober 2023 di seluruh wilayah Palestina terlihat sangat nyata. Tindakan-tindakan tersebut telah mengikis kemampuan warga Palestina untuk menjalani kehidupan yang bermartabat dan sehat, hal ini harus dinyatakan dengan sangat jelas.
Kebijakan yang diterapkan di Jalur Gaza serta lintasan situasi yang diamati di Tepi Barat yang diduduki, menunjukkan proyek kolonisasi Israel yang lebih luas di Palestina melalui pendudukan.
Sudah lebih dari 1.000 hari sejak genosida Israel di Gaza dimulai, dan hukuman kolektif terhadap warga Palestina terus berlanjut hingga hari ini. Di tengah apa yang disebut sebagai gencatan senjata, dunia telah menormalisasi pemandangan warga Palestina yang cacat dan terbunuh setiap hari di dalam tenda-tenda mereka, di rumah sakit, serta di jalanan.
Kata “gencatan senjata” telah kehilangan maknanya sama sekali.
Saat saya menulis baris-baris kalimat ini, jumlah korban jiwa terus bertambah, begitu pula dengan ketidakpedulian terhadap situasi katastrofe di Gaza. Kondisi ini menjadi kegagalan politik dunia paling mencolok dalam beberapa dekade terakhir.
Bulan Juni menjadi bulan paling mematikan sejak gencatan senjata dimulai pada bulan Oktober. Hingga 18 Juli, Israel telah membunuh 1.144 warga Palestina dan melukai 3.703 orang sejak gencatan senjata diumumkan, menambah panjang daftar korban tewas sejak awal perang yang kini telah melampaui 73.200 jiwa.
Israel sedang memperluas kendali militer di Jalur Gaza dengan garis pembatasnya yang disebut Yellow Line yang terus bergeser ke arah barat secara konstan. Perluasan ini menempatkan siapa saja yang mendekati garis tersebut dalam risiko ditembak, padahal mereka sering kali hanya mencoba mencapai tempat perlindungan, mengumpulkan kayu bakar, atau mencari makanan.
Namun masalahnya bukan hanya kekerasan belaka.
Seiring bergeraknya Yellow Line, wilayah tersebut memadatkan lebih dari dua juta orang ke dalam hanya sepertiga bagian dari Jalur Gaza. Hal ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan menciptakan kondisi kepadatan ekstrem yang membuat penyakit menyebar dengan mudah dan kebutuhan dasar tidak terpenuhi.
Kami melihat konsekuensinya di klinik-klinik kami berupa infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, dan penyakit diare. Masalah kesehatan ini dipicu oleh kurangnya air bersih dan sanitasi serta kondisi hidup yang tidak manusiawi.
Wilayah Tepi Barat juga telah mengalami transformasi kekerasan yang mendalam sejak 7 Oktober 2023.
Pemerintah Israel, militer, dan pemukim yang disponsori negara telah mempercepat pembersihan etnis, pencurian tanah, penggusuran, fragmentasi wilayah, serta pengekangan ekonomi. Semua langkah keji ini semakin mengikis keberadaan dan kontinuitas warga Palestina.
Warga Palestina diburu di rumah-rumah mereka, di sekolah-sekolah, dan di tanah mereka sendiri, sementara para penyerang menikmati impunitas penuh.
Di Nablus dan Hebron, kami menerima pasien yang mengalami trauma dan depresi terkait dengan kekerasan yang meningkat serta pembatasan ruang gerak. Hal ini menghambat setiap aspek kehidupan mereka, termasuk untuk pergi ke rumah sakit.
Israel terus menghalangi akses ke layanan kesehatan secara sistematis di Tepi Barat dan dengan sengaja membongkar sistem layanan kesehatan di Gaza. Petugas kesehatan, pasien, ambulans, dan rumah sakit semuanya telah menjadi sasaran serangan.






