Guru ‘Diguyu lan Diburu’
Oleh: Keni Rahayu, S. Pd., Aktivis Muslimah.
Apes. Hidup di 2026 dan kamu seorang guru? Hahaha selamat ya, siapa tahu ini jalanmu masuk ke surga. Kalau zaman aku SD dulu, mungkin 20 tahunan yang lalu kata “guru” layak menyandang singkatan digugu lan ditiru. Artinya, guru merupakan sosok yang segala ucapan dan tindak tanduknya dipercaya, kemudian murid mudah untuk menirunya.
Bagaimana dengan hari ini? Kalau kita melihat berita tahun 2020-an ke atas, konflik guru dan murid /orang tua makin banyak. Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), sepanjang 2020–2025 tercatat lebih dari 1.900 kasus kekerasan di satuan pendidikan. Dari jumlah tersebut, 46,25 persen melibatkan interaksi antara guru dan murid (Detik.com, 30 Desember 2025).
Fakta ini menegaskan bahwa relasi guru dan murid hari ini tidak baik-baik saja. Bahkan, tren kekerasan dalam enam tahun terakhir meningkat hingga 600 persen. Bukankah ini tidak bisa kita sebut sebatas masalah khusus personal tertentu? Harus kita kritisi, jangan-jangan ada yang salah dalam sistem pendidikan kita?
Nasib Guru dan Murid
Sistem pendidikan kita hari ini berpijak pada asas sekularisme. Agama hanya sebagian aspek kecil, bersaing dengan mata pelajaran umum yang jauh lebih banyak kuantitasnya. Alhasil, akhlak tidak terbentuk. Keberhasilan pendidikan dilihat dari aspek materi semata. Siswa dianggap pintar saat mendapat nilai ujian bagus. Kemudian, setelah lulus masuk kampus bergengsi. Ujung-ujungnya biar bisa kerja mapan. Pendidikan sekuler melahirkan generasi berwatak kapitalis.
Sedangkan, bapak dan ibu guru diburu dengan administratif yang rumit dalam tenggat waktu yang sempit. Aktivitas pendidikan bak forum jual beli. Orang tua membayar, mau tidak mau guru harus membuat siswa “berhasil”. Maka guru tidak lagi digugu, melainkan diguyu (Jawa: ditertawakan). Mereka diremehkan karena dianggap bagian dari mesin pencetak generasi cerdas semata.
Keutamaan Adab
Dalam Islam, pendidikan adalah satu aktivitas mulia. Guru dimuliakan karena ilmunya. Murid dituntun dengan lembut dalam prosesnya. Langkah awal sebelum proses transfer ilmu, murid dilatih untuk memiliki adab. Karena dalam pendidikan Islam, adab didahulukan untuk diajarkan kepada siswa, baru ilmu. Ilmu adalah hak Allah. Jika adab para murid baik, maka mudah bagi Allah “menitipkan” ilmu kepada mereka.
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Al-Baihaqi, Ahmad, dan Bukhari)
Rasulullah ﷺ diutus Allah untuk mendidik manusia dalam rangka menyempurnakan aakhla. Kesempurnaan adab beliau bukan hanya menjadi teladan personal, tetapi menjadi fondasi sistem pendidikan yang beliau bangun.
Sebagai kepala negara, di Madinah Rasulullah ﷺ mengarahkan pendidikan untuk membentuk manusia beradab, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap umat. Para sahabat dididik bukan hanya sebagai individu saleh, tetapi sebagai generasi pemikul amanah peradaban Islam.
Dalam kepemimpinan Rasulullah ﷺ, negara hadir secara nyata dalam penyelenggaraan pendidikan. Masjid Nabawi menjadi pusat pendidikan yang terbuka bagi seluruh kaum Muslim tanpa pungutan biaya. Negara menjamin kebutuhan para pendidik melalui Baitul Mal, sehingga proses pendidikan tidak berubah menjadi relasi transaksional antara guru dan murid. Dengan jaminan ini, guru dapat mendidik dengan ikhlas dan bermartabat, sementara murid belajar dalam suasana hormat dan penuh adab.
Negara hadir sepenuhnya dalam keberlangsungan proses pendidikan ini, baik dalam keluarga maupun di sekolah, antara guru, siswa, dan orang tua siswa. Keberlangsungan pendidikan adalah tanggung jawab negara, bukan urusan individual yang dibebankan pada orang tua apalagi dikapitalisasi lembaga. Inilah sistem yang menjaga kemuliaan guru, ketundukan murid, dan tujuan pendidikan sebagai sarana membentuk manusia berakhlak mulia.
Dalam Islam, guru adalah sosok yang digugu lan ditiru. Berbeda dengan sistem hari ini yang seolah menempatkan guru pada posisi yang mudah diguyu (ditertawakan) dan diburu. Maka pertanyaannya, sampai kapan kita bertahan dalam sistem pendidikan yang merendahkan guru ini? []





