Di Momen Tabligh Akbar UAS, Universitas Tazkia Luncurkan Kerja Sama dengan Nurul Azhar

Bogor (SI Online) – Momentum Tabligh Akbar Kampung Ramadan Tazkia bersama Ustaz Abdul Somad (UAS) di Masjid Tazkia, Sentul, Bogor, pada Ahad (01/3/2026) dilengkapi dengan penandatanganan kerja sama pendidikan antara Yayasan Nurul Azhar dan Universitas Tazkia,
Kerja sama tersebut diumumkan langsung oleh Pimpinan Tazkia Grup sekaligus pendiri dan Rektor Universitas Tazkia, Prof. Dr. Muhammad Syafii Antonio, dalam sambutannya sebelum kajian utama Ustaz Abdul Somad dimulai.
Prof. Syafii Antonio mengawali sambutannya dengan rasa syukur atas kehadiran Ustaz Abdul Somad yang untuk ketiga kalinya hadir di lingkungan Tazkia.
“Segala kesyukuran kepada Allah Swt yang sudah menghadirkan gurunda kita bersama Ustaz Abdul Somad di Tazkia. Karena waktu beliau sangat berharga dan terbatas, saya hanya menyampaikan pengantar, terutama untuk kerja sama dalam momentum kebangkitan ilmu,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa Ramadan adalah bulan wahyu dan bulan ilmu. Wahyu pertama yang turun adalah perintah iqra’ (bacalah), yang menurutnya bukan sekadar membaca teks, tetapi juga eksplorasi, riset, dan pengembangan pengetahuan secara berkelanjutan.
“Kalau Ramadan datang sementara ilmu kita stagnan, itu ironi. Iqra’ bismi rabbika berarti eksplorasi dan ekspansi ilmu dengan menyertakan nama Allah,” tegasnya.
Dalam paparannya, Prof. Syafii menegaskan bahwa kemajuan peradaban Islam dibangun di atas fondasi ilmu. Ia mencontohkan kejayaan Andalusia, Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Turki Usmani yang lahir dari tradisi keilmuan yang kuat.
“Tanpa ilmu kita tidak akan pernah maju. Allah mengangkat derajat orang berilmu di atas orang beriman. Apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa mencari ilmu membutuhkan perjuangan, sebagaimana perjalanan panjang Ustaz Abdul Somad menuntut ilmu di berbagai negara seperti Mesir, Maroko, dan Arab Saudi.
“Mencari ilmu itu jalan menuju surga. Barang siapa berjalan mencari ilmu, Allah mudahkan jalannya menuju surga,” katanya, seraya mendoakan jamaah yang hadir agar mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu.
Prof. Syafii turut mengulas pentingnya wakaf sebagai penopang keberlanjutan lembaga pendidikan Islam. Ia mencontohkan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang didirikan pada 857 M oleh Fatimah Al-Fihri melalui wakaf.
Ia juga menyebut Universitas Al-Azhar di Kairo dan Al-Zaitunah di Tunisia yang berkembang dengan sistem wakaf. Bahkan, menurutnya, konsep endowment fund di universitas-universitas Barat seperti Oxford, Cambridge, dan Harvard merupakan adaptasi dari tradisi wakaf dunia Islam.






