#Perang Iran vs AS-IsraelOPINI

Incirlik di Persimpangan Perang

Oleh: Yanuardi Syukur, Dosen Antropologi Universitas Khairun, Alumni Short Course “Foreign Policy: Strategic Equilibrium in the Indo-Pacific” Griffith University, Australia.

“The State Department ordered on Monday the mandatory departure of U.S. diplomats and family members from the consulate in Adana, a city in southern Turkey near Incirlik Air Base, where the U.S. Air Force and other NATO forces operate.”

(Departemen Luar Negeri AS pada Senin memerintahkan evakuasi wajib bagi para diplomat AS dan anggota keluarga dari konsulat di Adana, sebuah kota di Turki selatan yang berada di dekat Pangkalan Udara Incirlik, tempat Angkatan Udara AS dan pasukan NATO lainnya beroperasi).

Demikian laporan Edward Wong di New York Times (10 Maret 2026) mengungkap babak baru yang mencemaskan dalam konflik Timur Tengah: Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi wajib diplomat dan keluarga mereka dari konsulat di Adana, Turki selatan.

Kota Adana berada di dekat Pangkalan Udara Incirlik, basis penting bagi Angkatan Udara AS dan pasukan NATO. Keputusan ini diambil setelah Turki menembak jatuh dua rudal Iran yang diduga menargetkan pangkalan militer tersebut.

Hal yang membuat situasi ini jauh lebih serius adalah fakta tentang Incirlik. Pangkalan udara ini diyakini menyimpan sekitar 50 bom nuklir taktis B61 milik AS—senjata yang merupakan bagian dari program berbagi nuklir NATO dan telah ditempatkan di sana sejak 1959.

Meskipun tidak pernah dikonfirmasi secara resmi, lembaga seperti Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) dan Federation of American Scientists (FAS) telah lama menilai keberadaan senjata nuklir tersebut, yang menempatkan Incirlik bukan sekadar isu bilateral AS-Turki, melainkan bagian integral dari strategi pencegahan kolektif NATO.

Di tengah ketegangan ini, Turki melalui mantan Menteri Pertahanan Hulusi Akar yang kini mengepalai Komite Pertahanan Nasional Parlemen Turki, menyampaikan peringatan keras kepada Iran. Mengutip Turkish Minute (4 Maret 2026), Akar menegaskan bahwa Incirlik sepenuhnya berada di bawah kendali militer Turki, bukan pangkalan Amerika seperti yang mungkin diasumsikan Iran.

Halusi Akar juga memperingatkan Tehran agar tidak menargetkan Incirlik dengan dalih menyerang Amerika, karena personel militer asing dari AS, Jerman, Spanyol, Qatar, dan Arab Saudi yang bertugas di sana berstatus sebagai tamu, sementara Turki adalah satu-satunya pemilik fasilitas tersebut.

Peringatan Akar ini krusial karena membongkar narasi yang selama ini berkembang di publik Turki yang sering menyebut Incirlik sebagai “pangkalan Amerika”. Padahal berdasarkan Perjanjian Pertahanan dan Kerjasama Ekonomi (DECA) 1980, kedaulatan penuh atas fasilitas itu berada di tangan Turki. AS dan pasukan sekutu hanya beroperasi sebagai pengguna yang diotorisasi. Turki bahkan memiliki sejarah membatasi akses ke pangkalan ini, seperti saat Ankara menangguhkan aktivitas militer bilateral AS pada Juli 1975 menyusul embargo senjata setelah intervensi Turki di Siprus tahun 1974.

Akar juga menyampaikan kekhawatiran lebih luas bahwa eskalasi antara AS-Israel dan Iran dapat menyebabkan gangguan serius pada pasokan energi dan memicu gelombang migrasi baru menuju Turki. Ia menegaskan bahwa perbatasan Turki dilindungi 24 jam dengan sistem pertahanan canggih, sementara Presiden Erdoğan dan Menteri Luar Negeri Hakan Fidan terus melakukan kontak dengan para mitra untuk mendorong gencatan senjata. Pesan Ankara jelas: Turki tidak boleh ditarik ke dalam konflik ini.

Dari perspektif geopolitik, pernyataan Akar mengirim sinyal ganda. Di satu sisi, ini adalah peringatan keras bagi Iran untuk tidak salah langkah; atau ‘jangan overreach’, istilahnya. Jangan melampaui batas. Di sisi lain, ini juga pesan kepada publik domestik, terutama partai oposisi seperti Partai Kesejahteraan Baru (New Welfare Party, YRP) pimpinan Fatih Erbakan yang menuntut penutupan Incirlik dan radar Kürecik (radar peringatan dini NATO terhadap rudal balistik di Provinsi Malatya, Turki bagian tenggara) sejak serangan dimulai. Erbakan dan kalangan oposisi melihat pangkalan ini sebagai simbol keterlibatan Turki dalam perang yang tidak diinginkan rakyat.

Satu hal yang menarik, meskipun Turki menegaskan kedaulatannya atas Incirlik, fakta bahwa pangkalan ini menyimpan senjata nuklir NATO membuatnya tetap menjadi target bernilai tinggi. Iran mungkin membaca peringatan Akar, tetapi dalam logika perang asimetris, menyerang Incirlik—meskipun mengenai personel Turki—bisa menjadi cara Tehran untuk menarik Ankara ke dalam pusaran konflik dan memecah kohesi NATO. Ini adalah skenario mimpi buruk yang ingin dihindari semua pihak.

Bagi kita di Indonesia, dinamika ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana negara berdaulat seperti Turki harus menavigasi tekanan aliansi di tengah kawasan yang terbakar.

Peristiwa evakuasi massal diplomat AS dari Adana, peringatan Akar ke Iran, dan tuntutan oposisi menutup pangkalan adalah potret dari kompleksitas politik di ‘negara yang menjadi tuan rumah bagi kepentingan strategis global.’

Adapun bom nuklir B61 yang ada di Incirlik jika jadi target Iran akan menjadi sesuatu yang berbahaya dan mengundang retaliasi Turki dan NATO yang bisa memperkeruh dan memperluas perang AS-Israel versus Iran.[]

Back to top button