Bagaimana Iran Akan Mencoba Membunuh Trump?
Oleh: Brendan Cole, Senior Reporter Newsweek.
Laporan bahwa Israel telah membagikan informasi intelijen kepada Amerika Serikat mengenai dugaan rencana baru Iran untuk membunuh Presiden Donald Trump kembali memunculkan pertanyaan tentang ancaman pembunuhan terhadap Trump yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Iran secara terbuka telah berjanji akan membalas Trump atas perintahnya pada tahun 2020 untuk membunuh Jenderal Qassem Soleimani, komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC). Seruan balas dendam itu semakin menguat sejak pecahnya perang Iran.
Di tengah kekhawatiran akan kembalinya perang terbuka antara Iran dan Amerika Serikat, The Wall Street Journal pada Kamis melaporkan adanya rencana “baru” untuk membunuh Trump dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut. CNN juga melaporkan bahwa Israel telah membagikan intelijen kepada AS mengenai sebuah rencana baru yang diduga disusun Teheran untuk membunuh Trump.
Namun, rincian rencana tersebut belum jelas. CNN melaporkan bahwa pemerintah AS belum memverifikasi informasi itu maupun melacaknya sebelum menerima peringatan dari Israel.
Meskipun berbagai dugaan rencana tersebut masih diselimuti misteri, Arie Perliger, pakar terorisme, kekerasan politik, ekstremisme, dan politik Timur Tengah, mengatakan bahwa upaya Iran melakukan pembunuhan di wilayah Amerika biasanya dilakukan melalui pihak perantara.
Newsweek telah menghubungi Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri Israel untuk meminta komentar.
Ancaman-Ancaman Sebelumnya yang Dikaitkan dengan Iran
Baik CNN maupun Wall Street Journal tidak menjelaskan secara rinci bentuk rencana pembunuhan tersebut ataupun apakah metode yang digunakan serupa dengan berbagai rencana sebelumnya yang berhasil diungkap aparat Amerika dan dikaitkan dengan Iran.
Dalam dakwaan yang dibuka ke publik pada November 2024, Departemen Kehakiman AS menuduh IRGC memerintahkan seorang warga Afghanistan bernama Farhad Shakeri untuk membunuh Trump, idealnya sebelum pemilu yang akhirnya dimenangkan Trump. Jika hal itu tidak memungkinkan, IRGC disebut akan menunggu hingga setelah pemilu karena mereka meyakini Trump akan kalah dari Wakil Presiden saat itu, Kamala Harris.
Akibat perkiraan kekalahan tersebut, perlindungan Secret Service terhadap Trump akan berkurang dan ia menjadi lebih rentan.
Dalam kasus lain, Asif Merchant, warga Pakistan yang menurut otoritas AS memiliki hubungan dengan IRGC, dituduh datang ke Amerika Serikat untuk merekrut pembunuh bayaran guna membunuh sejumlah tokoh politik Amerika, termasuk Trump.
Merchant mulai bekerja untuk IRGC di Pakistan pada akhir 2022 atau awal 2023. Ia ditangkap pada Juli 2024 setelah bertemu dengan agen FBI yang menyamar sebagai pembunuh bayaran.
Pada 6 Maret, ia dinyatakan bersalah atas dakwaan pembunuhan berbayar dan percobaan melakukan aksi terorisme.
“Pria ini datang ke tanah Amerika dengan harapan membunuh Presiden Trump,” kata Jaksa Agung saat itu, Pamela Bondi. “Sebaliknya, ia justru berhadapan dengan kekuatan penegakan hukum Amerika.”
Perliger, profesor di University of Massachusetts Lowell School of Criminology and Justice Studies, mengatakan bahwa operasi Iran di wilayah Amerika selama ini mengikuti pola yang sama seperti kasus Merchant.
Alih-alih mengirim agen terlatih mereka sendiri untuk melakukan serangan, Teheran biasanya menggunakan pihak ketiga yang kemudian merekrut jaringan kriminal lokal atau pembunuh bayaran. Cara ini memberikan ruang bagi Iran untuk menyangkal keterlibatan langsung, tetapi sekaligus menciptakan banyak titik kegagalan.






