China dan Rusia dalam Perang Iran
Oleh: Yanuardi Syukur, Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate.
Ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, banyak pihak bertanya, yakni akankah China dan Rusia turun tangan membela sekutu strategis mereka? Jawabannya menunjukkan pola menarik dalam politik global kontemporer. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sendiri mengakui China dan Rusia “bukanlah faktor” dalam perang ini, sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa Washington berusaha menghindari perluasan konflik.
Dukungan Terukur
Dalam perang ini, Rusia dan China memilih jalan tengah, yakni memberikan dukungan diplomatik dan teknis, namun menahan diri dari keterlibatan militer langsung. Bagi Rusia, perang di Ukraina yang masih berlangsung menjadi faktor pembatas utama. Meski telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis dengan Iran pada Januari 2025, dokumen tersebut tidak memiliki klausul pertahanan bersama. Namun Moskow tetap berkontribusi signifikan di ranah intelijen.
Tiga pejabat senior AS mengungkapkan kepada The Washington Post bahwa Rusia memasok data real-time kepada Teheran mengenai posisi kapal perang dan pesawat AS di kawasan Teluk (Al-Azzawi, Al Jazeera, 12/3/2026). Bantuan ini memungkinkan Iran melakukan serangan balasan yang lebih terukur, termasuk serangan terhadap fasilitas militer AS di Kuwait yang menewaskan enam personel Amerika.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara terbuka mengonfirmasi peran kedua negara tersebut. “Kami memiliki kerja sama erat di masa lalu yang masih berlanjut, dan itu mencakup kerja sama militer,” ujar Araghchi kepada MS NOW (Martuscelli, 15/3/2026). Iran bahkan telah menjalin kerja sama yang baik dengan negara-negara ini secara politik, ekonomi, bahkan militer.
Peran China lebih senyap namun tidak kalah penting. Beijing telah bertahun-tahun membangun lanskap perang elektronik Iran—mengekspor sistem radar canggih seperti YLC-8B anti-stealth yang dirancang untuk mendeteksi pesawat siluman AS (Al-Azzawi, 2026). China juga mentransisi navigasi militer Iran dari GPS AS ke konstelasi BeiDou-3 terenkripsi miliknya. Menurut laporan Reuters, Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi 50 rudal anti-kapal CM-302—varian ekspor dari YJ-12 China yang mampu melaju pada kecepatan Mach 3 dan disebut sebagai “pembunuh kapal induk” (Al-Azzawi, 2026).
Di Balik Ketidakterlibatan
Satu hal dalam ketidakterlibatan Rusia justru dipandang “diuntungkan” secara strategis oleh konflik ini. Perang berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi mengalihkan perhatian dan sumber daya militer AS dari Ukraina—sesuatu yang sangat diinginkan Kremlin. Presiden Trump berspekulasi bahwa Putin mungkin membantu Iran “sedikit,” seraya membandingkannya dengan bantuan Barat ke Ukraina (Martuscelli, 2026).
China memiliki perhitungan serupa. Namun fokus utama Beijing tetaplah melindungi kepentingan ekonomi, terutama pasokan energi melalui Selat Hormuz yang menyumbang sekitar 45 persen impor minyak China. Dalam wawancara terpisah, Menteri Luar Negeri Araghchi menegaskan Selat tersebut hanya ditutup bagi kapal “musuh kami, mereka yang menyerang kami dan sekutu mereka,” tetapi tetap terbuka untuk negara lain (Martuscelli, 2026). Pernyataan ini menguntungkan China yang mengimpor minyak Iran dalam jumlah besar.
Relasi China dengan Iran tidak berlebihan jika disebut bersifat transaksional. Artinya, bukan persekutuan militer. Namun seperti diobservasi Jasim Al-Azzawi (2026), China memperlakukan konflik ini sebagai ‘laboratorium perang nyata’ dalam arti bahwa setiap potensi keterlibatan rudal CM-302 melawan kelompok tempur kapal induk AS menghasilkan data yang akan dipelajari militer Beijing untuk skenario yang benar-benar mereka pedulikan jika kelak meletus, yakni soal Taiwan.
Perang Sinyal
Setidaknya, ada dua faktor struktural yang membatasi kedua negara. Rusia dan China tidak memiliki infrastruktur logistik untuk memproyeksikan kekuatan militer berkelanjutan ke Teluk Persia. Selain itu, mereka memiliki hubungan kompleks dengan negara-negara Teluk lainnya. Melibatkan diri secara militer di pihak Iran dapat membahayakan hubungan dengan Arab Saudi dan UEA yang penting bagi pasokan energi China dan pasar senjata Rusia.
Perang Iran 2026 ini menguji batas kerja sama poros Moskow-Beijing-Teheran. Seperti ditulis Al-Azzawi (2026) bahwa Rusia dan China tidak mengirim divisi untuk membantu Teheran.
Mereka melakukan sesuatu yang lebih langgeng: “mereka mengajari Iran cara melihat.” Di medan perang modern, sinyal dapat dimaknai sebagai ‘peluru baru.’ Sinar radar yang disediakan oleh kedua mitra tersebut kini sama mematikannya dengan rudal.[]






