“Atur Saja Hidupku, Ya Allah”
Ketika seseorang berkata, “atur saja hidupku ya, Allah,” ia sedang mengalihkan pusat kendali. Dari dirinya sendiri kepada sesuatu yang lebih besar.
Menjelang Malam yang Dicari-Cari
Ramadan hampir usai. Malam-malam terakhir datang dengan suasana yang berbeda—lebih hening, lebih dalam, dan entah mengapa, terasa lebih dekat. Di banyak masjid, lampu tetap menyala hingga larut. Orang-orang memperpanjang doa, memperlambat langkah, seakan enggan melewatkan sesuatu yang belum tentu datang dua kali.
Di antara doa-doa yang dipanjatkan, ada satu kalimat yang terdengar sederhana, nyaris seperti bisikan: “Atur saja hidupku ya, Allah, hamba manut.”
Kalimat itu tidak panjang. Tidak pula terdengar seperti doa yang penuh permintaan. Ia justru seperti penutup dari semua harapan—setelah segala ikhtiar dilakukan, setelah segala pinta diucapkan.
Di malam-malam ganjil yang diyakini menyimpan Lailatul Qadar, kalimat itu menemukan maknanya yang paling utuh.
Dari Permintaan Menuju Penyerahan
Sepanjang Ramadan, umat Muslim datang kepada Tuhan dengan berbagai harapan. Ada yang meminta kelapangan rezeki, kesehatan, kemudahan hidup, atau jawaban atas persoalan yang tak kunjung selesai.
Doa-doa itu dipanjatkan berulang-ulang. Di sela puasa, selepas salat, hingga di ujung malam saat sebagian besar dunia tertidur.
Namun memasuki sepuluh malam terakhir, ada perubahan yang halus.
Permintaan perlahan bergeser menjadi penyerahan.
Orang tidak lagi sekadar meminta apa yang diinginkan, tetapi mulai menerima apa yang akan ditetapkan. Ada kesadaran yang tumbuh: bahwa tidak semua yang diminta adalah yang terbaik, dan tidak semua yang tidak didapat adalah kerugian.
Dalam suasana itulah, kalimat “hamba manut” terasa menemukan tempatnya.
Ia bukan lagi sekadar doa, melainkan kesimpulan dari perjalanan batin selama Ramadan.






