Hikmah Puasa di Bulan Suci Ramadan
Allah SWT mewajibkan puasa selama satu bulan penuh kepada setiap Muslim, sebagaimana perintah dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 disebutkan: “Kutiba ‘alaikumus-shiyam…” yang berarti “Diwajibkan atas kamu berpuasa.”
Ayat ini menegaskan kewajiban puasa Ramadan bagi orang-orang beriman, sebagaimana juga diwajibkan kepada umat terdahulu, dengan tujuan utama agar mencapai derajat ketakwaan (la’allakum tattaqun).
Kewajiban ini berlaku bagi umat Islam yang telah baligh. Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, namun Allah hanya mewajibkan puasa selama satu bulan saja. Hal ini tentu mengandung hikmah besar. Pertanyaannya, apa maksud dan manfaatnya bagi seorang Muslim?
Untuk memahami hal tersebut, kita perlu bertafakur sejenak: apakah selama ini kita benar-benar tunduk dan pasrah kepada ketentuan Allah, atau justru lebih sering mengikuti hawa nafsu?
Dari perenungan ini, kita menyadari bahwa seorang Muslim sejatinya harus memiliki hubungan yang baik dengan Allah (hablum minallah) sebagai konsekuensi dari syahadat ilahiyah. Di sisi lain, ia juga harus konsisten mengikuti sunnah Nabi sebagai konsekuensi syahadat nabawiyah.
Namun dalam praktiknya, sering terjadi “pertempuran” dalam diri manusia antara dorongan hawa nafsu yang mengarah pada kemaksiatan dan bisikan hati nurani yang mengajak kepada ketaatan. Puasa hadir sebagai sarana untuk menjernihkan jiwa, membersihkan kotoran hati yang menumpuk selama 11 bulan akibat kelalaian.
Melalui puasa, sifat egois dikikis dan diganti dengan keistiqamahan dalam ketaatan. Sifat rakus berubah menjadi kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama. Dengan demikian, puasa bukan hanya ibadah yang bersifat hablum minallah, tetapi juga memiliki dampak sosial yang kuat.
Adapun tanda diterimanya puasa seorang hamba antara lain:
1. Peka terhadap panggilan Allah
Hatinya tergerak ketika mendengar azan dan segera menunaikan salat fardhu. Ia juga merasakan getaran dalam hatinya ketika nama Allah disebut, sebagaimana firman-Nya: “Wa idza dzukirallahu wajilat qulubuhum” — apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka.
2. Baik dalam hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas)
Tumbuh rasa cinta kepada sesama, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang Muslim akan peduli terhadap penderitaan orang lain, ringan tangan membantu, serta menjaga lingkungan dan makhluk Allah lainnya agar tetap harmonis. Itulah gambaran ketakwaan sebagai buah dari ibadah puasa.
Menurut ulama tasawuf, Imam Al-Qusyairi, kata taqwa juga memiliki makna yang dalam, yang dapat diilustrasikan melalui huruf-hurufnya:
- T (Tawadhu): rendah hati, tidak sombong.
- Q (Qana’ah): merasa cukup, tidak serakah, dan pandai bersyukur.
- W (Wara’): berhati-hati dalam ucapan, tindakan, dan keputusan; menjaga diri dari hal yang merugikan.
- Y (Yakin): memiliki keyakinan penuh kepada Allah, sehingga selalu optimis dan tidak mudah putus asa.
Akhirnya, semoga ibadah puasa di bulan Ramadan ini mampu menghantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa, memberikan manfaat bagi diri sendiri dan umat, menebarkan kasih sayang kepada seluruh makhluk Allah, serta memiliki visi dalam membangun kehidupan dan peradaban yang lebih baik.
Iwan Sumiarsa
Pembina LBH Keadilan Rakyat






