DAERAH

Perkuat Ekonomi Umat, Ulama Luncurkan Produk Air Mineral Lemoya

Bogor (SI Online) – Suasana sederhana namun penuh harap menyelimuti sebuah pabrik air kemasan di kawasan Parung, Kabupaten Bogor, Sabtu (11/4/2026). Di tempat inilah, sebuah produk baru bernama Lemoya resmi diperkenalkan ke publik—air minum dalam kemasan ukuran 600 ml yang tidak sekadar hadir sebagai produk konsumsi, tetapi juga membawa misi besar: kemandirian ekonomi umat.

Peluncuran ini bukan hanya soal bisnis. Ia lahir dari perjalanan panjang, jatuh bangun, dan pertemuan yang membangun kerja sama antara pemilik pabrik, H Subarkah, dengan pimpinan Majelis Al Ihya Bogor, KH Chaerul Saleh.

Haji Subarkah mengenang, pabrik yang ia bangun sejak 2014 sempat terhenti saat pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas produksi sempat berhenti total. Namun, dari kondisi tersebut saat ini diharapkan menjadi titik balik.

“Singkat cerita, saya bertemu dengan KH Chaerul Saleh sebelum Ramadan. Dari situlah kami berdiskusi untuk membuat produk air kemasan dan setelah bersepakat kita mulai mengurus seluruh perizinannya,” ujarnya.

Dari diskusi itu, lahirlah Lemoya. Sebuah produk air minum yang kini telah melalui berbagai proses, mulai dari standar SNI, perizinan BPOM, hingga barcode agar dapat bersaing di pasar modern.

Lebih dari sekadar usaha, Subarkah menyimpan kegelisahan yang lebih dalam. Ia menilai, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia justru masih tertinggal dalam penguasaan sumber daya, termasuk air minum dalam kemasan.

“Miris, negeri Muslim terbesar tapi kekayaan alamnya, khususnya air, banyak dikuasai perusahaan non-Muslim. Saya berharap kehadiran Lemoya bisa menjadi bagian dari kebangkitan ekonomi umat,” katanya.

Sementara itu, KH Chaerul Saleh—yang akrab disapa Babah Chaerul—menekankan pentingnya menyatukan niat antara doa dan ikhtiar.

“Kita setiap hari berdoa agar Allah mendekatkan rezeki yang jauh. Tapi kalau tanpa ikhtiar, itu belum lengkap. Maka hari ini kita sedang berikhtiar menjemput rezeki sekaligus memperkuat bidang ekonomi umat,” tuturnya.

Baginya, Lemoya bukan sekadar produk, melainkan bagian dari gerakan yang lebih besar. Ia mengisahkan pengalamannya dalam berbagai aktivitas dakwah, termasuk saat terlibat dalam gerakan besar umat beberapa tahun lalu. Dari sana, ia melihat langsung betapa pentingnya kekuatan ekonomi untuk menopang perjuangan.

“Kegiatan dakwah itu butuh operasional. Dan sering kali yang menjadi kendala adalah dana. Karena itu, kita harus punya usaha, punya pemasukan,” jelasnya.

Air minum dipilih bukan tanpa alasan. Produk ini bersifat massal, dibutuhkan semua orang, dan memiliki potensi besar untuk berkembang.

Lemoya saat ini baru tersedia dalam kemasan 600 ml, namun ke depan direncanakan akan hadir dalam ukuran lain seperti 330 ml. Airnya sendiri berasal dari kawasan Gunung Salak, yang sejak lama dikenal memiliki kualitas air terbaik.

1 2Laman berikutnya
Back to top button