OASE

Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental

Isu kesehatan mental kian hari kian menarik perhatian publik. Hal ini dipicu oleh maraknya berbagai masalah kemasyarakatan yang berakar dari terganggunya kesehatan mental.

Sebagai contoh, beberapa kasus fatal yang menerpa mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi akhirnya mendorong pihak kampus menghadirkan klinik konseling. Langkah tersebut diambil sebagai salah satu solusi alternatif untuk menekan angka gangguan psikologis di lingkungan akademis.

Dalam Islam, isu kesehatan mental sebenarnya telah dikaji sejak lama. Bahkan, jalan keluar yang ditawarkan Islam bisa dikatakan jauh lebih sederhana dan menyentuh akar masalah.

Islam menawarkan konsep rida terhadap qadha, husnuzan setelahnya, dan tawakal seterusnya. Ketiga prinsip ini insyaallah dapat menjadi solusi paripurna bagi kesehatan mental setiap Muslim.

Terganggunya kesehatan mental seseorang umumnya disebabkan oleh peristiwa masa lalu yang membekas di hati. Misalnya, seorang anak yang mengalami luka pengasuhan pada masa kecilnya.

Kita harus menyadari bahwa manusia tidak bisa memilih lahir dari orang tua yang mana atau dengan gaya pengasuhan seperti apa. Segala sesuatu yang tidak bisa kita pilih dan telah menimpa kita itulah yang disebut sebagai kada Allah.

Oleh karena itu, langkah awal yang bisa kita lakukan adalah rida dengan semua keputusan Allah. Mustahil bagi kita untuk memutar kembali waktu dan menuntut orang tua agar membenahi cara mereka mengasuh kita dahulu.

Sikap rida terhadap takdir buruk yang telah menimpa adalah pilihan terbaik. Sikap pasrah ini akan memberikan ketenangan yang menghujam ke dalam hati dan pikiran.

Setelah rida, kita perlu membangun pola pikir yang positif atau husnuzan terhadap ketentuan tersebut. Masih dalam kasus yang sama, luka pengasuhan masa lalu sebenarnya bisa membentuk kita menjadi pribadi yang tahan banting dalam menghadapi kehidupan.

Kita harus menanamkan pikiran bahwa Allah menakdirkan masa lalu kelam tersebut agar kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa.

Langkah terakhir adalah selalu tawakal, yaitu bersandar dan berserah diri dalam segala urusan hanya kepada Allah. Jika kita selalu menjaga kedekatan dengan Allah, Dia sendiri yang akan menolong dan mengurai benang kusut dalam pikiran kita.

Konsep ini pula yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat diuji dengan tahun kesedihan (amul huzni). Beliau kehilangan pamannya, Abu Thalib, yang selalu pasang badan membela dakwahnya, serta sang istri tercinta, Khadijah, yang menjadi pilar pendukung utamanya.

1 2Laman berikutnya
Back to top button