MUHASABAH

Spanyol Mengejar Piala Dunia, Andalusia Mengejar Ilmu

Lini masa hari ini dipenuhi kabar kemenangan Spanyol yang menjuarai Piala Dunia. Mata dunia tertuju kepadanya seusai membekuk Argentina dengan skor 1-0 dini hari tadi.

Bagi dunia hari ini, menggenggam piala dalam kompetisi sepak bola merupakan sebuah kebanggaan besar. Setiap negara berupaya menurunkan pemain terbaik demi meraih gelar kejuaraan tersebut, begitu pula dengan Spanyol.

Namun, pemandangan akan sangat berbeda jika kita menarik waktu ke sepuluh abad yang lalu. Pada abad ke-10, Andalusia—sebutan untuk negeri Spanyol saat itu—pernah mengguncang dunia melalui puncak kejayaan ilmu pengetahuan, bukan lewat trofi Piala Dunia.

Melalui kepemimpinan Thariq bin Ziyad, Islam memasuki Andalusia sejak 711 M hingga berakhir pada 1492 M.

Kordoba yang menjadi ibu kota Andalusia kala itu tumbuh sebagai pusat peradaban dan mercusuar ilmu pengetahuan terbesar di Eropa, bahkan dunia.

Di sana berdiri perpustakaan raksasa yang menyimpan jutaan manuskrip dari berbagai disiplin ilmu. Tempat itu pula yang melahirkan banyak ilmuwan berpengaruh dunia, seperti Al-Zahrawi selaku pelopor pembedahan modern, Ibnu Rusyd sang ahli filsafat, serta Abbas Ibnu Firnas sebagai perintis penerbangan bermesin sayap.

Karya-karya agung mereka terus dikembangkan oleh para ilmuwan lintas generasi hingga manfaat penemuannya dapat kita rasakan sampai hari ini.

Begitulah gambaran saat peradaban Islam menaungi Andalusia. Islam sangat menjunjung tinggi tradisi keilmuan dan mendorong umatnya untuk terus melahirkan karya.

Bahkan dalam Qur’an Surah Al-Mujadilah ayat 11, Allah menegaskan akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu di antara orang-orang yang beriman. Firman ini menjadi dorongan moral bagi kaum Muslimin untuk menuntut ilmu demi kemudahan hidup dan peningkatan kualitas ibadah.

Sementara itu, Islam memandang sepak bola sekadar sebagai olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh. Pada masa-masa akhir peradaban Islam di sana, pemerintah bahkan sempat melarang kompetisi sepak bola karena menilai hal tersebut bukan sesuatu yang utama untuk diperebutkan.

Ada kewajiban yang jauh lebih mendesak sesuai ajaran Islam, yakni menuntut ilmu demi menghadirkan kemanfaatan luas bagi masyarakat dan pemakmuran bumi.[]

Elis Irma Ratnasari

Back to top button