JEJAK SEJARAH

Andalusia: Ketika Cahaya Islam Menyinari Spanyol

Oleh: Andrian Permana (Mahasiswa S3 King Fahd University of Petroleum and Minerals)

Dunia menyaksikan Spanyol dinobatkan sebagai juara Piala Dunia 2026 seusai menundukkan Argentina melalui perpanjangan waktu di Stadion New York/New Jersey pada Ahad, 19 Juli 2026. Sorak-sorai La Roja menggema ke seluruh penjuru bumi, menegaskan bahwa Spanyol selalu memiliki cara untuk mencuri perhatian global.

Daya pikat tersebut hadir bukan hanya lewat sepak bola, melainkan juga melalui bentangan sejarah panjang yang jauh lebih tua daripada sekadar piala emas.

Jauh sebelum era Ferran Torres atau Lamine Yamal, negeri ini menjadi panggung peradaban paling gemilang dalam sejarah Islam. Masa kejayaan Islam di Andalusia berlangsung hampir delapan abad dan meninggalkan jejak monumental yang masih dapat disaksikan hingga kini.

Kisah agung ini bermula pada 711 Masehi saat pasukan Muslim di bawah komando Thariq bin Ziyad menyeberangi selat sempit yang kini dinamai Selat Gibraltar—berasal dari istilah Jabal Thariq. Dalam waktu singkat, sebagian besar Semenanjung Iberia berada di bawah naungan Islam dengan nama Al-Andalus.

Keistimewaan Andalusia tidak hanya terletak pada kemenangan militernya, melainkan pada kebudayaan luhur yang tumbuh setelahnya. Kordoba yang menjadi ibu kota Kekhalifahan Umayyah pada abad ke-10 berkembang menjadi salah satu kota termaju di dunia.

Saat sebagian besar Eropa masih terperangkap dalam kegelapan Abad Pertengahan, Kordoba telah memiliki jalanan beraspal dengan penerangan lampu, perpustakaan berisi ratusan ribu jilid buku, serta fasilitas pemandian umum di berbagai penjuru kota.

Warisan Arsitektur yang Masih Berdiri Kokoh

Saksi bisu paling megah dari masa emas ini adalah Masjid Agung Kordoba yang kini dikenal sebagai Mezquita-Catedral de Córdoba. Bangunan yang dirintis oleh Abdurrahman I ini dipenuhi deretan lengkungan tapal kuda merah-putih di atas ratusan pilar yang menciptakan efek ruang tanpa batas.

Pasca-Reconquista pada abad ke-13, bangunan ini dialihfungsikan menjadi katedral, tetapi struktur asli masjidnya tetap dipertahankan hingga menyajikan perpaduan dua peradaban dalam satu atap.

Di Granada, jejak kejayaan itu terwujud dalam Kompleks Istana Alhambra yang dibangun oleh Kesultanan Nasrid. Alhambra merupakan mahakarya arsitektur yang memadukan estetika, teknik pengairan canggih, serta ornamen kaligrafi Arab pada dinding-dindingnya.

Larik ayat Al-Qur’an dan bait puisi menyatu harmonis dengan pola geometris arabesque yang memikat jutaan wisatawan setiap tahun.

Sementara itu di Sevilla, Menara La Giralda yang berdiri tegak di samping Katedral Sevilla sejatinya merupakan bekas menara masjid dari era Kesultanan Muwahhidun. Kehadiran bangunan ini membuktikan bahwa jejak peradaban Islam tersebar luas di kawasan selatan Spanyol.

1 2Laman berikutnya
Back to top button