OASE

Menghidupkan Thalabul ‘Ilmi

Oleh: Desti Ritdamaya (Praktisi Pendidikan)

Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini tepat untuk menjelaskan alasan minimnya minat kaum muslim dalam menuntut ilmu agama.

Hal tersebut tampak dari banyaknya konser musik atau bioskop berbayar yang selalu ramai pengunjung usia produktif. Sebaliknya, kajian majelis ilmu agama justru dominan dihadiri anak-anak atau orang tua yang hampir pensiun.

Muslim yang tidak mengenal hukum menuntut ilmu beserta keutamaannya akan merasa biasa saja saat meninggalkan majelis ilmu. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memahami keutamaan tersebut agar senantiasa semangat dan istiqamah dalam menuntut ilmu.

Hukum Menuntut Ilmu

Allah Swt. menegaskan dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah-Nya. Menyembah Allah Swt. berarti taat, tunduk, serta terikat pada syariat-Nya.

Untuk merealisasikannya, dibutuhkan ilmu terkait amalan yang tergolong sebagai ketaatan dan keterikatan pada syariat. Seseorang tidak bisa menyembah Allah Swt. hanya dengan mengandalkan perasaan semata.

Penggunaan perasaan tanpa ilmu dapat menjatuhkan manusia pada cara penyembahan yang salah dan memperturutkan hawa nafsu. Seorang hamba juga tidak dapat memasuki surga Allah Swt. dengan selamat jika masih diselimuti kebodohan terhadap syariat-Nya.

Hal inilah yang menjadikan setiap muslim wajib menuntut ilmu sebelum beramal. Rasulullah saw. bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim. (H.R. Ibnu Majah).

Hadis ini memberikan tuntunan bahwa selama napas masih dikandung badan, kewajiban menuntut ilmu tetap melekat pada pundak muslim mukalaf. Selain itu, frasa thalabul ‘ilmi memiliki makna mendalam, yaitu:

السعي إليه وبذل الجهد في تحصيله

Artinya, menuntut ilmu membutuhkan pengerahan segenap kekuatan dan upaya secara maksimal.

Dalam menuntut ilmu, diperlukan pengorbanan waktu, pikiran, dan tenaga. Seseorang tidak bisa menuntut ilmu agama secara biasa saja, sekadar mengisi waktu luang, atau saat dalam kondisi suasana hati (mood) yang baik saja.

Para sahabat dan ulama salaf telah memberikan teladan terbaik dalam mengamalkan hadis di atas. Pada fase awal dakwah, sahabat Assabiqunal Awwalun menuntut ilmu kepada Rasulullah saw. di bawah ancaman dan tekanan.

Mereka harus menempuh perjalanan malam hari sejauh puluhan kilometer menuju rumah Arqam bin Abi Arqam di Bukit Shafa, Mekkah. Begitu pula kisah para ulama salaf yang rela menempuh perjalanan antarbenua dengan berjalan kaki demi mempelajari satu makna ayat Al-Qur’an atau satu hadis.

1 2Laman berikutnya
Back to top button