Kandungan Gula Capai 100 Persen Batas Harian, Waspadai Artisan Milk Tea
Depok (Suaraislam.id) — Ahli kesehatan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Widyatuti mengimbau publik agar lebih bijak dalam menyikapi tren gaya hidup mengonsumsi minuman kekinian yang membahayakan kesehatan.
Ketua Klaster Family and Community Empowerment FIK UI itu menjelaskan, kombinasi tinggi gula, krimer olahan, pemanis tambahan, serta basis teh pekat dalam porsi teh susu (artisan milk tea) berpotensi memicu gangguan metabolisme serius.
“Dampak negatif tersebut meliputi obesitas, resistensi insulin yang berujung pada diabetes melitus tipe 2, hingga gangguan sistem kardiovaskular,” kata Widyatuti dikutip dari Antara, Sabtu (26/09).
Ancaman ini tidak dapat dipandang sebelah mata mengingat posisi Indonesia yang saat ini berada di peringkat kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes terbanyak.
Data International Diabetes Federation (IDF) edisi ke-11 tahun 2024 mencatat 20,4 juta warga Indonesia hidup dengan diabetes. Indonesia duduk di posisi kelima di bawah Pakistan, Amerika Serikat, India, dan China.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah merekomendasikan batas konsumsi gula harian maksimal empat sendok makan atau setara 50 gram per orang per hari. Rekomendasi ini ditetapkan untuk menjaga stabilitas glukosa darah dan mencegah beban metabolik berlebih.
Kendati demikian, satu porsi artisan milk tea di pasaran diperkirakan menyumbang 70 hingga 100 persen dari total batas gula harian tersebut.
Selain tingginya kadar gula, asupan kafein dari basis teh pekat yang diminum secara berlebihan juga patut diwaspadai. Konsumsi kafein berlebih berisiko memicu gangguan kecemasan, palpitasi jantung, gangguan tidur, hingga masalah pencernaan, khususnya bagi kelompok yang sensitif terhadap kafein, anak-anak, dan ibu hamil.
“Popularitas artisan milk tea sering kali membuat masyarakat terbuai oleh cita rasa, aroma khas, dan estetika visualnya. Istilah artisan kerap disalahartikan sebagai produk yang pasti alami atau sehat. Oleh karena itu, edukasi mengenai batas aman asupan gula dan kafein sangat krusial agar masyarakat tidak terjebak dalam gaya hidup yang merusak metabolisme tubuh,” ucap dokter Widyatuti.
Sebagai langkah preventif di tingkat keluarga, ia membagikan sejumlah panduan edukatif untuk menikmati minuman kekinian secara bijak. Masyarakat diimbau untuk selalu memilih tingkat kemanisan (sugar level) terendah seperti less sugar 30 persen atau tanpa gula (no sugar).
Penggunaan krimer bubuk olahan maupun krimer kental manis sebaiknya diganti dengan susu rendah lemak (low-fat) atau susu nabati (plant-based).
Pilihan topping berkalori tinggi seperti boba, cheese foam, dan puding juga sebaiknya dibatasi. Yang terpenting, artisan milk tea hendaknya diposisikan hanya sebagai sajian sesekali, sementara pemenuhan cairan harian tetap bersumber utama dari air putih.[]
Sumber: ANTARA






