Kebaikan Bukan Sekadar Perbuatan, Melainkan Wujud Keimanan Kepada Allah Swt.
Oleh: Ayu Mela Yulianti, S.Pt. (Pegiat Literasi dan Pemerhati Kebijakan Publik)
Kebaikan yang sejati berakar pada keimanan kepada Allah Swt., hari akhir, para malaikat, kitab-kitab suci, dan para nabi. Keimanan ini mendorong seseorang untuk berbuat baik secara ikhlas tanpa pamrih hanya demi mengharapkan keridaan Allah Swt.
Perbuatan baik tidak boleh sekadar didasari pada penilaian manusia, melainkan harus berlandaskan akidah yang benar. Dengan landasan iman, setiap amal tidak akan sia-sia dan akan mendapatkan balasan sempurna di sisi Allah Swt.
Seorang mukmin yang benar keimanannya akan senantiasa melaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ia akan menunaikan setiap amanah untuk melakukan perbaikan dan mencegah kerusakan di muka bumi.
Ia tidak akan mengambil harta milik orang lain maupun menguasai kepemilikan umum untuk kepentingan pribadi. Pengelolaan sumber daya alam seperti hutan, mata air, dan barang tambang harus dilakukan sesuai petunjuk Allah Swt. dan Rasulullah saw. agar tidak menimbulkan kerusakan.
Iman kepada Allah Swt. menuntut seorang Muslim untuk berlaku adil dan tidak berbuat zalim, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Eksploitasi alam secara serakah demi keuntungan pribadi hanya akan memicu bencana banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
Ketika dipercaya menjadi pimpinan, seorang pemangku kebijakan tidak boleh mengkhianati amanah rakyat. Ia tidak boleh menyerahkan penguasaan kekayaan alam yang melimpah kepada korporasi asing maupun aseng.
Keimanan kepada Allah Swt. juga menggerakkan seseorang untuk menolong agama-Nya dengan membela pihak yang tertindas. Keimanan mendorong umat Islam untuk bergerak membebaskan tanah Palestina dari pendudukan dan kekejaman Israel.
Upaya ini membutuhkan pengerahan seluruh potensi kekuatan, termasuk kekuatan militer yang dipimpin oleh seorang pimpinan Islam guna menegakkan hukum syariat secara menyeluruh (kaffah). Oleh karena itu, pelaku kebaikan akan selalu berusaha merealisasikan ketaatan dan mengajak orang lain untuk terikat pada hukum Allah Swt.
Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 177:
۞ لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 177)
Wallahu a’lam.






