Pentingnya Iman kepada Takdir
Oleh: Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.
Dalam kehidupan, ada hal yang dapat diikhtiarkan dan ada yang mutlak menjadi takdir, seperti kematian, kelahiran, jodoh, serta rezeki.
Di mana dan kapan kematian menjemput tidak dapat diprediksi oleh teknologi canggih. Seseorang yang divonis medis dapat bertahan hidup, sementara orang yang tampak sehat dapat meninggal mendadak.
Para pemimpin penindas di AS dan Israel hendaknya tidak merasa aman. Malaikat maut dan adzab kubur siap menjemput mereka walau bersembunyi di dalam bunker teraman.
Allah Swt. berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا
“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh. Jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, ‘Ini dari Allah,’ dan jika mereka ditimpa suatu keburukan, mereka mengatakan, ‘Ini dari engkau (Muhammad).’ Katakanlah, ‘Semuanya dari Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 78)
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, pasti akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia akan memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Jumu’ah [62]: 8)
Orang-orang jahat kerap takut pada kematian dan mengupayakan segala cara untuk memperpanjang usia, padahal batas umur manusia modern amat terbatas.
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
“Dan sungguh, engkau akan mendapati mereka sebagai manusia yang paling tamak terhadap kehidupan, bahkan lebih tamak daripada orang-orang musyrik. Masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu tidak akan menjauhkannya dari azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 96)
Kisah Firaun diabadikan dalam Al-Qur’an beserta jasadnya sebagai ibrah bagi para penguasa zalim.
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Maka pada hari ini Kami menyelamatkan jasadmu agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu. Dan sungguh, kebanyakan manusia lengah terhadap tanda-tanda Kami.” (Q.S. Yunus [10]: 92)
Kisah penenggelaman Firaun menunjukkan bahwa penyesalan di ujung maut tidak lagi diterima oleh Allah Swt.
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ وَلَقَدْ بَوَّأْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مُبَوَّأَ صِدْقٍ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ فَمَا اخْتَلَفُوا حَتَّىٰ جَاءَهُمُ الْعِلْمُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ فَإِن كُنتَ فِي شَكٍّ مِّمَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكَ ۚ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ فَتَكُونَ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan Kami selamatkan Bani Israil menyeberangi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka dengan kezaliman dan permusuhan. Hingga ketika Fir’aun hampir tenggelam, dia berkata, ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim.’ ‘Apakah sekarang (baru kamu beriman), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan? Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu. Dan sungguh, kebanyakan manusia lengah terhadap tanda-tanda Kami.’ Dan sungguh, Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat yang baik dan Kami memberi mereka rezeki yang baik. Mereka tidak berselisih setelah datang kepada mereka ilmu. Sesungguhnya Tuhanmu akan memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa yang dahulu mereka perselisihkan. Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu. Sungguh, telah datang kepadamu kebenaran dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu. Dan janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, sehingga engkau termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Yunus [10]: 90–95)
Seorang Muslim senantiasa siap menghadapi kematian. Pasukan Hamas memiliki doktrin keteguhan ‘isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid).
Sebaliknya, demoralisasi menimpa tentara zionis yang dipenuhi ketakutan dan depresi walau bersenjata canggih. Propaganda manipulatif disebarkan untuk mencitrakan pejuang Islam sebagai teroris.






