Perjuangan Ayah Muda Generasi Zillenial
Oleh: Andrian Permana (Zillenial Father)
Menjadi seorang ayah muda dari generasi Zillenial—gabungan milenial akhir dan Gen Z—membawa tantangan ganda yang belum pernah dihadapi oleh generasi sebelumnya. Di satu sisi, dinamika dunia kerja yang serba cepat, disrupsi digital, dan tuntutan ekonomi memaksa para ayah muda bekerja ekstra keras demi kesejahteraan keluarga.
Di sisi lain, terjadi pergeseran budaya yang sangat positif di mana para ayah Zillenial tidak lagi ingin sekadar menjadi pencari nafkah yang berjarak. Mereka merindukan keterlibatan aktif dalam tumbuh kembang anak serta mendampingi istri secara langsung di rumah.
Namun, idealisme ini sering kali membentur tembok kelelahan fisik dan mental yang berat. Tuntutan pekerjaan dengan budaya always-on akibat gawai, serta tingginya biaya hidup, kerap menjebak ayah muda dalam dilema rasa bersalah yang berkepanjangan.
Perjuangan untuk meraih work-life balance (keseimbangan kerja dan kehidupan) pun menjelma menjadi pertempuran sunyi yang dialami banyak ayah Zillenial hari ini.
Teladan Ayah dalam Al-Qur’an
Jika menengok ajaran Islam, konsep kehadiran seorang ayah bukanlah hal yang asing, melainkan fondasi utama dalam pendidikan keluarga. Al-Qur’an justru merekam banyak dialog pengasuhan yang diabadikan dari sudut pandang seorang ayah.
Kisah Nabi Ibrahim a.s. yang berdiskusi dengan Nabi Ismail a.s., hingga petuah bijak Luqman al-Hakim kepada anaknya, menunjukkan bahwa peran ayah sangat menekankan aspek kehadiran emosional dan komunikasi spiritual.
Rasulullah saw. juga memberikan teladan nyata dalam membagi waktu secara adil di tengah kesibukan memimpin umat. Beliau tetap menjadi figur yang hangat di rumah, bermain bersama cucu-cucunya seperti Hasan dan Husein, serta membantu pekerjaan rumah tangga para istrinya.
Islam mengajarkan bahwa mencari nafkah adalah ibadah yang mulia, namun memberikan perhatian dan waktu berkualitas (quality time) bagi keluarga adalah amanah kepemimpinan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Membangun Keseimbangan dalam Hidup
Menghadapi realitas kerja modern, kaum Muslim muda perlu mendefinisikan ulang keseimbangan hidup dari sekadar pembagian jam kerja yang kaku menjadi konsep keberkahan waktu. Langkah konkret ini dimulai dengan meluruskan niat bahwa setiap tetes keringat di tempat kerja dan menit bersama keluarga merupakan satu kesatuan bentuk pengabdian kepada Allah Swt.
Selanjutnya, ayah Zillenial perlu membangun komunikasi yang jujur dengan pasangan untuk membagi peran secara fleksibel. Menetapkan batasan (boundaries) yang jelas antara jam kerja dan waktu keluarga, seperti mematikan notifikasi pekerjaan saat membersamai anak, menjadi langkah penting untuk menjaga kehadiran jiwa dan raga secara utuh (presence).
Pada akhirnya, perjuangan meraih keseimbangan ini bukan tentang menjadi manusia yang sempurna tanpa cela. Ini adalah ikhtiar terus-menerus untuk menjemput rezeki yang halal sekaligus menjadikan rumah sebagai pusat kedamaian (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat.[]






