Ketika Amal Bertemu Algoritma
Oleh: Fajri, S.Pd.I., M.Ag., Gr. (Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry)
“Kalau orang memamerkan keburukan saja tidak malu, mengapa ketika berbuat baik kita justru diminta menyembunyikannya?”
Pertanyaan itu terdengar masuk akal. Di media sosial, orang dapat dengan mudah memperlihatkan apa yang dahulu mungkin dianggap layak disimpan sebagai urusan pribadi. Kemewahan, gaya hidup, pertengkaran, bahkan perilaku yang tidak patut, bisa berubah menjadi tontonan publik. Sesuatu yang semestinya membuat malu kadang justru menjadi sumber perhatian.
Lalu, ketika seseorang mengunggah sedekah, kegiatan sosial, perjalanan umrah, membaca Al-Qur’an, menghadiri kajian, atau aktivitas keagamaan lainnya, muncul pertanyaan berbeda: bukankah itu bisa menjadi riya? Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Tidak semua kebaikan yang terlihat adalah riya, sebagaimana tidak semua kebaikan yang tersembunyi otomatis lebih baik.
Al-Qur’an sendiri mengenal kebaikan yang dilakukan secara terbuka. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 274, Allah menyebut orang-orang yang menafkahkan hartanya “di malam dan di siang hari, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan”. Ayat ini menunjukkan bahwa memperlihatkan amal tidak serta-merta menjadikannya tercela.
Namun, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa sedekah yang dilakukan dengan menyakiti penerima atau disertai keinginan mendapatkan pujian dapat kehilangan nilainya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 264, orang beriman diperingatkan agar tidak membatalkan sedekah dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerimanya.
Artinya, persoalannya bukan sekadar terlihat atau tidak terlihat. Ada sesuatu yang lebih dalam: untuk siapa kebaikan itu dilakukan? Di media sosial, pertanyaan tersebut menjadi semakin sulit karena kehidupan manusia masuk ke dalam sistem yang memang dibangun untuk menarik perhatian alias pamer.
Layar ponsel memiliki cara sendiri dalam memberikan penghargaan. Sesuatu yang dilihat akan mendapatkan perhatian, yang menarik akan mendapatkan tanda suka (like), yang menyentuh akan dibagikan (share), dan yang terus mendapatkan respons akan kembali muncul di hadapan lebih banyak orang.
Algoritma tidak akan pernah mengetahui keikhlasan. Ia tidak tahu apakah seseorang bersedekah karena Allah atau karena ingin dipuji. Ia tidak tahu apakah seseorang membaca Al-Qur’an karena kecintaan kepada Tuhan atau karena ingin membangun citra religius. Algoritma hanya mengenali sesuatu yang dapat dilihat, ditonton, diklik, dibagikan, dan diberi tanda suka.
Layar dapat memperlihatkan apa yang dilakukan manusia, tetapi tidak pernah mampu memperlihatkan untuk siapa dan kenapa ia melakukannya. Di situlah tantangan baru kesalehan muncul. Islam menempatkan niat pada posisi yang sangat penting. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa amal bergantung pada niat dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.
Niat tidak memiliki warna, keikhlasan tidak memiliki jumlah penonton, kekhusyukan tidak dapat dihitung dari jumlah komentar, dan rasa takut kepada Allah tidak memiliki tombol like. Namun, kehidupan digital perlahan membiasakan kita dengan ukuran yang berbeda: sesuatu terasa bernilai ketika mendapatkan perhatian.
Padahal, ukuran agama tidak selalu bekerja seperti itu. Ada amal yang besar di mata manusia tetapi tidak bernilai sebagaimana yang dibayangkan pelakunya. Ada pula amal yang nyaris tidak diketahui siapa pun, tetapi justru memiliki nilai besar di sisi Allah.
Karena itu, persoalannya bukan apakah kebaikan boleh ditampilkan. Kebaikan yang ditampilkan bisa menjadi teladan. Sebuah kegiatan sosial yang dibagikan dapat menggerakkan orang lain untuk melakukan hal serupa. Cerita tentang perjuangan seorang guru dapat membuat orang lain menghargai pendidikan, dan dokumentasi kegiatan masjid dapat mengajak orang yang jauh untuk kembali mendekat.
Dalam konteks tertentu, menampilkan kebaikan bahkan dapat menjadi bagian dari dakwah. Namun, ada batas yang perlu dijaga ketika ajakan berubah menjadi kebutuhan untuk diakui. Mulanya seseorang membagikan sedekah agar orang lain tergerak, namun lama-kelamaan ia menunggu komentar.






