Ini Politisi Israel yang Berusaha Gantikan Netanyahu
Oleh: Simon Speakman Cordall
Pada 26 September lalu, lima tokoh terkemuka dari kubu oposisi Zionis Israel menandatangani pakta non-agresi. Kesepakatan ini dibentuk dalam upaya bersama untuk melengserkan petahana Benjamin Netanyahu pada pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung 27 Oktober mendatang.
Pertemuan tersebut dilangsungkan di kediaman pemimpin oposisi Yair Lapid di Tel Aviv. Hadir dalam pertemuan itu sekutunya yang juga mantan Perdana Menteri Naftali Bennett selaku pemimpin Partai Beyachad, mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot selaku pemimpin Partai Yashar yang baru, Yair Golan selaku pemimpin Partai Democrats, serta Avigdor Liberman selaku ketua Partai Yisrael Beiteinu.
Dalam pernyataan prinsip yang diterbitkan usai pertemuan maraton tersebut, para pemimpin oposisi menyatakan, “Meskipun di antara kami terdapat perbedaan ideologi, pembentukan pemerintahan yang bersifat Zionis dan negarawan yang berdedikasi pada perbaikan serta rekonstruksi adalah tujuan utama bersama kami.”
Kendati demikian, berbagai pertanyaan besar masih mengganjal. Seberapa lama pakta tersebut akan bertahan—terutama mengingat Liberman telah menuduh kandidat unggulan Eisenkot bersekongkol mencari kesepakatan dengan Netanyahu—seberapa substansial perubahan yang mereka tawarkan ketimbang sekadar gaya kepemimpinan, serta siapa di antara mereka yang akan memimpin koalisi masa depan, masih menjadi tanda tanya besar.
Kecuali Yair Golan, seluruh tokoh dalam aliansi tersebut menganut pandangan politik sayap kanan yang fundamental dalam menghadapi berbagai tantangan Israel.
Tidak ada satupun dari mereka yang berkomitmen untuk mendirikan negara Palestina, di mana hanya Partai Democrats yang mengakui hal tersebut sebagai tujuan jangka panjang yang belum pasti. Bahkan Golan sekalipun tidak mengakui bahwa perang Israel di Gaza merupakan bentuk genosida, atau bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang dalam membunuh lebih dari 74.000 jiwa di wilayah tersebut.
Selain itu, tak ada satupun dari mereka yang mempertanyakan aksi militer Israel terhadap Lebanon, Suriah, Yordania, Qatar, dan Iran. Kritik yang mereka layangkan umumnya sebatas pada bagaimana aksi-aksi tersebut membuat citra internasional Israel memburuk.
“Kekuatan dominan dalam kubu oposisi seperti Bennett, Liberman, atau Eisenkot merepresentasikan politik sayap kanan,” ujar Ahron Bregman, analis Israel sekaligus dosen senior di King’s College London.
“Mereka tidak bersedia menyentuh isu paling mendasar yang menjadi inti dari segalanya: isu Palestina dan aspirasi kemerdekaan Palestina,” tambahnya. Ia menyamakan mereka dengan Netanyahu, hanya saja tanpa skandal korupsi dan tanpa dukungan figur-figur ekstrem kanan seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.
“Israel secara keseluruhan adalah bangsa sayap kanan,” imbuhnya.
Lantas, siapakah figur-figur utama oposisi tersebut dan apa platform partai yang mereka usung?






