Ini Politisi Israel yang Berusaha Gantikan Netanyahu
Gadi Eisenkot – Yashar
Gadi Eisenkot diyakini sebagai pencetus Dahiyeh Doctrine pada tahun 2008, sebuah doktrin militer yang melibatkan pengerahan “kekuatan tidak proporsional” serta penghancuran infrastruktur sipil secara besar-besaran terhadap kelompok seperti Hizbullah dan Hamas. Eisenkot sendiri pernah menjabat sebagai Kepala Staf Militer Israel pada periode 2015 hingga 2019.
Pria berusia 66 tahun ini terjun ke dunia politik pada 2022 melalui aliansi National Unity pimpinan mantan Menteri Pertahanan Benny Gantz. Ia kemudian bergabung dengan kabinet perang yang dibentuk oleh Netanyahu usai serangan pimpinan Hamas di wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023.
Pada Desember tahun yang sama, putranya yang berusia 25 tahun, Gal, bersama dua keponakannya tewas saat berpartisipasi dalam perang di Gaza. Para pengamat menilai tragedi pribadi tersebut berhasil membangun ikatan emosional dengan para pemilih yang merasa terluka akibat perang.
Pada Juni 2024, ia mengundurkan diri dari kabinet perang bersama Gantz dengan menuduh Netanyahu tidak memiliki strategi jelas untuk mengakhiri perang. Setahun berselang, Eisenkot mendirikan partai berhaluan sentris bernama Yashar (Lurus/Jujur), yang mengusung agenda pemerintahan profesional, wajib militer bagi seluruh warga—termasuk kaum Yahudi ultra-ortodoks—serta pembentukan komisi penyelidikan negara atas kegagalan pengamanan pada 7 Oktober.
Meski dikenal samar dalam banyak posisi kebijakan luar negeri, Eisenkot kerap mengkritik ketergantungan pemerintah terhadap Amerika Serikat dalam mencapai tujuan perangnya, meskipun ia tidak pernah mempertanyakan tujuan perang itu sendiri.
Pada bulan Juni lalu, ia mencirikan negosiasi mediasi Washington dengan Teheran yang ditempuh AS bersama Israel sebagai “sebuah kesepakatan yang dibentuk jauh dari sini dan jauh dari kepentingan Israel.” Pada bulan yang sama, ia juga mengecam pembatasan AS terhadap kebebasan bertindak militer Israel di Lebanon.
Eisenkot secara tegas menolak untuk memasukkan Daftar Arab Bersatu atau Partai Ra’am ke dalam koalisi pascapemilu. Dalam wawancara dengan Channel 12 pada 26 September, ia menyatakan bahwa tidak ada partai Arab yang akan menerima persyaratannya, termasuk pengakuan terhadap Israel sebagai negara Yahudi.
Naftali Bennett & Yair Lapid – Beyachad
Beyachad (Bersama) adalah daftar gabungan yang diumumkan pada April 2026 oleh mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan Yair Lapid. Keduanya pernah bergantian memimpin pemerintahan selama total 18 bulan pada periode 2021–2022 di antara masa pemerintahan Netanyahu.
Bennett, politisi berusia 54 tahun yang lama dikenal sebagai pendukung setia permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki, memimpin daftar tersebut. Sementara itu, Lapid, pendiri partai sentris Yesh Atid berusia 62 tahun, berada di posisi kedua.
Lapid sempat menjabat sebagai mitra koalisi yang menyebut rekannya itu sebagai “politisi sayap kanan, tetapi seorang yang jujur.” Namun, tidak satupun dari mereka yang memprioritaskan penyelesaian konflik Israel-Palestina ataupun mendukung berdirinya negara Palestina.
Meskipun koalisi mereka pada 2021 sempat merangkul Partai Ra’am, Bennett mengakui bahwa langkah tersebut melanggar janji kampanyenya sendiri.
Lapid dikenal sebagai salah satu kritikus paling vokal di Israel terkait bagaimana genosida dan berbagai serangan terhadap negara tetangga dipersepsikan oleh dunia internasional. Kendati demikian, ia jarang mempertanyakan dasar pemikiran di balik tindakan militer tersebut.
Sebaliknya, Bennett jauh lebih vokal dalam menyuarakan pandangan garis kerasnya. Sebagai pendukung penuh perang negara tersebut terhadap Iran, ia bahkan mengucapkan selamat kepada militer dan dinas keamanan Israel atas serangan pada September 2025 di ibu kota Qatar, Doha, yang menargetkan para pemimpin senior Hamas saat mereka sedang mempertimbangkan proposal gencatan senjata Gaza yang diajukan AS. Seorang pejabat keamanan Qatar tewas dalam serangan tersebut, yang langsung memicu kecaman luas dari kawasan regional maupun internasional.
Kini, keduanya berupaya membentuk pemerintahan yang hanya terdiri dari partai-partai Zionis semata, serta menutup peluang ketergantungan pada partai-partai Arab.






