Amal Khalil: Jejak Jurnalis Lebanon yang Dibidik Israel
Menurut Weimer, kegagalan Palang Merah menembus lokasi akibat pemboman berkelanjutan menunjukkan adanya unsur kesengajaan dalam pembunuhan jurnalis tersebut.
Tim darurat akhirnya menemukan jasad Khalil setelah Zeinab Faraj dan dua korban pria lainnya berhasil dievakuasi lebih awal.
Pelanggaran Hukum Humaniter
Harian Al-Akhbar dalam laporannya memuji keteguhan Amal Khalil dalam menjalankan tugas kemanusiaan meski berada di bawah ancaman maut.
Jurnalis The Guardian, William Christou, menggambarkan sosok Khalil melalui unggahan di media sosial X sebagai pribadi yang sangat berdedikasi dan profesional di lapangan.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengecam keras insiden ini dan menyebut penargetan area perlindungan jurnalis sebagai pelanggaran serius hukum humaniter.
Direktur Regional CPJ, Sara Qudah, menyatakan bahwa pola serangan berulang di lokasi yang sama menunjukkan adanya motif terarah dari pihak militer.
Ancaman Pembunuhan Sebelumnya
Pada awal 2024, Amal Khalil sempat melaporkan bahwa dirinya menerima ancaman pembunuhan dari pihak Israel yang memaksanya meninggalkan Lebanon selatan.
Laporan ancaman tersebut kini menjadi bukti kuat bagi CPJ untuk mendalami adanya unsur penargetan yang direncanakan terhadap Khalil.
Insiden ini menambah daftar panjang jurnalis perempuan yang gugur di Lebanon setelah sebelumnya Ghada Dayekh dan Suzan Khalil juga tewas dalam serangan terpisah.
Bulan lalu, tiga jurnalis Lebanon lainnya turut kehilangan nyawa dalam serangan Israel di kota Jezzine yang memicu kemarahan publik internasional.
IDF mengonfirmasi pembunuhan tersebut namun melabeli para korban sebagai anggota sayap militer kelompok bersenjata.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pembunuhan warga sipil yang tengah bertugas merupakan kejahatan internasional yang terang-terangan.[]






