SOSOK

Amal Khalil: Jejak Jurnalis Lebanon yang Dibidik Israel

Beirut (SI Online) – Perdana Menteri Lebanon menuduh Israel melakukan kejahatan perang setelah serangan udara di selatan Lebanon pada Rabu menewaskan seorang jurnalis dan melukai satu rekan lainnya.

Serangan mematikan tersebut merenggut nyawa Amal Khalil, jurnalis harian Lebanon Al-Akhbar, serta melukai fotografer lepas Zeinab Faraj.

Sejumlah pejabat Lebanon menyebut kedua jurnalis itu sengaja dibidik saat berusaha berlindung di sebuah rumah setelah serangan awal menghantam kendaraan di depan mereka.

Pemerintah Lebanon juga menuding Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sengaja menargetkan ambulans yang sudah ditandai jelas saat mencoba menolong korban di Desa Tayri.

Pihak IDF membantah keras tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa militer mereka tidak menargetkan jurnalis maupun menghalangi tim penyelamat.

Dugaan Target Terencana

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menegaskan bahwa penyerangan terhadap jurnalis dan penghalangan tim medis merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

“Menargetkan jurnalis, menghalangi tim penyelamat untuk mencapai mereka, bahkan kembali menyerang lokasi setelah tim tiba, merupakan kejahatan perang yang jelas,” tegas Nawaf Salam.

Salam menyebut tindakan Israel sebagai pendekatan sistematis untuk menargetkan pekerja media yang bertugas di wilayah konflik selatan Lebanon.

Ia menyatakan Lebanon akan membawa kasus pembunuhan jurnalis berusia 43 tahun ini ke berbagai forum internasional yang berwenang.

Di sisi lain, IDF berdalih bahwa serangan tersebut menyasar dua kendaraan yang berangkat dari struktur militer milik kelompok Hezbollah.

Militer Israel mengeklaim salah satu kendaraan melintasi garis pertahanan depan dan dianggap sebagai ancaman langsung sehingga memicu tindakan balasan.

Penghalangan Bantuan Medis

Pasukan Israel disebut melepaskan tembakan dan granat kejut saat ambulans Palang Merah Lebanon tiba di lokasi untuk mengevakuasi para korban.

Kementerian terkait menyatakan tindakan tersebut sebagai pelanggaran ganda karena menargetkan aktivis media sipil sekaligus kendaraan medis resmi.

Direktur Eksekutif Reporters Without Borders, Clayton Weimer, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan pesan agar IDF memberikan akses bagi ambulans.

1 2Laman berikutnya
Back to top button