Anak, Dunia Digital, dan Cermin Nilai di Rumah
Psikolog keluarga Gottman (2019) menyebut konsep emotion coaching sebagai kunci pola asuh masa kini: bukan sekadar melarang atau memerintah, tetapi menuntun anak mengenali emosinya sendiri. Itulah inti yang sejalan dengan puisi Dorothy — children learn what they live.
***
Sosiolog pendidikan memandang puisi ini sebagai fondasi pendidikan karakter. Ia bukan teori rumit, melainkan refleksi sehari-hari tentang hubungan antara lingkungan, nilai, dan pembelajaran sosial. Dalam konteks Indonesia yang kini sibuk membicarakan profil pelajar Pancasila, puisi ini seperti akar dari konsep itu: anak yang tumbuh dengan kejujuran, rasa aman, dan kasih sayang akan menjadi manusia yang beriman, mandiri, dan gotong royong.
Namun tantangan baru muncul. Di era di mana “parenting” menjadi konten yang bisa diikuti atau dikomentari publik, nilai pengasuhan sering terjebak dalam standar sosial media — bukan kesadaran personal. Banyak orang tua lebih sibuk menunjukkan citra “keluarga ideal” ketimbang benar-benar hadir secara emosional.
Padahal, seperti kata Dorothy, “If a child lives with security, he learns to have faith in himself.” Rasa aman itu bukan berasal dari rumah besar atau sekolah mahal, melainkan dari konsistensi kasih sayang — dari pelukan yang tak perlu diunggah dan kata maaf yang diucapkan tulus.
***
Suatu sore, Damar menulis di papan tulis kecil di ruang tamu: “If a child lives with friendship, he learns that the world is a nice place to live.”
Rani tersenyum. Ia tak tahu kapan anaknya mengingat baris itu. Tapi ia sadar: yang penting bukan seberapa cepat anak menghafal pelajaran, melainkan seberapa dalam ia menyerap nilai-nilai hidup.
Puisi Dorothy Law Nolte mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati tidak selalu terjadi di ruang kelas, tetapi dalam cara kita hidup bersama anak-anak kita. Dalam setiap tawa, teguran, dan pelukan — di sanalah mereka belajar tentang dunia, dan tentang dirinya sendiri.[]
Muhibbullah Azfa Manik






