Dari Industri, Gentayang Layar, yang Terasing Hingga Buya Syafii
Oleh: Khaerul Majdi, Pegiat komunitas Kelas Reading Buya Syafii di Lombok Timur.
Pada Mulanya Industri
Peristiwa ini bermula pada kisaran pertengahan abad ke-20 Masehi. Bersama para sekutunya, salah satunya Inggris, Amerika Serikat mulai merencanakan sebuah visi raksasa perdagangan global.
Noam Chomsky dalam bukunya, Memeras Rakyat: Neoliberalisme dan Tatanan Global, menyebut fenomena ini sebagai ‘Hasrat akan Pasar Bebas’. Rencana tersebut kemudian membuahkan kesepakatan bersama tentang hak asasi manusia, uji coba nuklir, militer, dan lingkungan.
Namun, tidak berselang lama, rencana tersebut segera berubah wujud. Bukan lagi sekadar kesepakatan biasa, melainkan menjadi proses transmisi nilai-nilai Amerika secara terselubung dan masif melalui teknologi telekomunikasi.
Melalui kekuatan media telekomunikasi tersebut, Amerika Serikat mendapat kesempatan besar melalui World Trade Organization (WTO). Mereka secara diam-diam menguasai batas-batas pasar negara lain, hukum, nilai, serta praktik yang beroperasi di dalamnya.
Perkembangan ini tidak berhenti di situ saja. Dalam waktu singkat, telekomunikasi tradisional bermetamorfosis menjadi wujud yang lebih canggih, yakni World Wide Web (WWW) atau internet.
Peristiwa tersebut dapat disebut sebagai peluit awal dimulainya bisnis daring (online) di kancah global. Pencanggihan alat komunikasi ini dipicu oleh motif bisnis penguasaan pasar global dan agenda privatisasi oleh megaperusahaan Amerika Serikat.
Motif tersebut berjalan beriringan dengan hasrat Amerika Serikat untuk menjadikan dirinya penguasa bagi negara lain yang lemah. Kondisi ini bahkan berlaku bagi negara sekutunya sendiri.
Hari ini kita perlu mencurigai adanya motif kontrol kuasa yang sama dalam wujud teknologi paling mutakhir. Bentuk kecurigaan ini dapat diarahkan pada perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Gentayang Layar
Ada kelompok masyarakat yang hampir terlupakan dari mega proses pencanggihan tersebut, yaitu mereka yang berada di luar gelanggang. Mereka tidak terlibat secara langsung dalam pasar global, tetapi terkena dampak dari peristiwa pencanggihan mutakhir ini.
Peliknya, sebagian masyarakat di negara sekutu Amerika Serikat seperti Inggris mengalami nasib yang malang. Reserve, sebuah jurnal terkemuka di London yang dikutip oleh Chomsky, melaporkan fakta tersebut.
Jurnal tersebut melaporkan bahwa sekitar dua juta anak di Inggris menderita gangguan tumbuh kembang akibat malnutrisi pada waktu itu. Chomsky menegaskan bahwa kondisi ini merupakan akibat dari kemiskinan berskala besar yang belum pernah terjadi sejak tahun 1930-an.
Laporan lain menyebutkan satu dari tiga bayi lahir dalam kemiskinan, serta terjadi pengurangan pasokan energi dan pemotongan anggaran program sosial. Akses penggunaan telepon oleh masyarakat kelas bawah juga mulai terbatas.
Nasib malang ini diakibatkan oleh keikutsertaan pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Margaret Thatcher dalam perjanjian dagang global. Kebijakan tersebut memaksanya memotong dana publik demi memenuhi komitmen perjanjian.
Jika fenomena ini ditarik pada konteks hari ini, hal serupa dapat dirasakan pada berbagai layar digital atau platform media sosial. Dampaknya tidak lagi sebatas fisik, melainkan merembet pada ancaman mental, krisis identitas, hingga alienasi atau keterasingan.






