MASAJID

Apa Isi Ka’bah dan Apa yang Menyelimutinya?

Di jantung ibadah haji berdiri Ka'bah, yang diselimuti kain seberat 670 kilogram sutra dan dihiasi sulaman sekitar 200 kilogram benang emas dan perak.

Apa itu Kiswah?

Kiswah adalah kain sutra hitam yang menyelimuti Ka’bah. Nama “Kiswah” berasal dari akar kata Arab k-s-w, yang berarti “menutupi” atau “menyelimuti”.

Pada masa awal, istilah ini digunakan untuk berbagai jenis pakaian atau penutup, namun kemudian secara khusus merujuk pada penutup Ka’bah.

Selama musim haji, bagian bawah Kiswah diangkat dengan hati-hati agar tidak rusak akibat banyaknya jamaah yang ingin menyentuh Ka’bah.

Bagian-bagian Kiswah

  1. Kain utama: Tinggi 14 meter, terdiri dari 47 lembar kain berbeda
  2. Hizam (sabuk hias): Terletak sekitar dua pertiga tinggi dinding Ka’bah; Lebar sekitar 95 cm; Panjang sekitar 47 meter.
  3. Sitara atau Burqu’: Tirai yang menggantung di atas pintu Ka’bah; Merupakan bagian Kiswah yang paling kaya hiasan.

Mengapa Ka’bah ditutupi?

Ka’bah diyakini ditutupi untuk:

  • Melindunginya
  • Menghormatinya
  • Memperindahnya

Tidak diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menutup Ka’bah dengan Kiswah. Pendapat yang paling banyak diterima sejarawan menyebut bahwa tradisi ini sudah ada sebelum Islam.

Mayoritas sejarawan meyakini Raja Yaman Tubba As’ad Kamil adalah orang pertama yang menutupi Ka’bah sekitar tahun 400 M dengan kain khusus dari Yaman.

Ada pula pendapat bahwa Nabi Ismail adalah orang pertama yang menutupinya, meskipun tidak ada bukti pasti yang menguatkan hal tersebut.

Ilustrasi: Proses pelepasan dan penggantian Kiswah Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah. [FB Haramain]

Kiswah dibuat dari bahan apa?

Saat ini Kiswah dibuat dari sutra alami. Namun sepanjang sejarah, berbagai bahan pernah digunakan, antara lain:

  • Linen
  • Katun
  • Wol
  • Kulit
  • Kulit hewan

Jenis bahan dan lokasi pembuatannya berubah mengikuti kondisi zaman dan kekuasaan Islam saat itu.

Awalnya Kiswah dibuat di Mesir yang memiliki industri tekstil maju. Kemudian diproduksi juga di: Suriah, Baghdad, dan Yaman.

Tradisi itu berlanjut pada masa: Ayyubiyah, Mamluk, dan Utsmaniyah, hingga akhirnya berada di bawah Kerajaan Arab Saudi setelah runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button