Bencana: Sebab dan Penanganannya dalam Perspektif Islam
Akibatnya, muncul penambangan masif, perkebunan skala raksasa, pembangunan properti tanpa analisis dampak lingkungan yang ketat, dan infrastruktur yang memakan ruang konservasi.
Dalam perspektif Islam, ini merupakan bentuk penyimpangan yang sangat besar. Sebab dalam Islam, alam bukan objek yang boleh dieksploitasi semaunya, melainkan amanah dari Allah dan titipan bagi generasi mendatang. Kerusakan ekologis adalah bentuk pelanggaran serius terhadap amanah tersebut.
Islam secara tegas melarang tindakan yang membawa bahaya, baik terhadap manusia maupun lingkungan: “Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya…” (HR. Ibn Majah)
Sementara itu, model kapitalisme yang dijejalkan dalam pembangunan modern justru mendorong lahirnya kerusakan tersebut. Karena itu, tak heran bila bencana terus berulang: sistem yang melandasi kehidupan tidak berpihak pada keberlanjutan, tetapi pada keuntungan.
Penanganan Bencana: Lamban, Insidental, dan Tidak Menyentuh Akar Masalah
Selain penyebab struktural, penanganan bencana pun bermasalah. Di lapangan tampak:
- Evakuasi terhambat, personel terbatas, akses sulit, peralatan minim.
- Mitigasi lemah sosialisasi minim, kesadaran masyarakat rendah, infrastruktur pencegah bencana tak memadai.
- Kebijakan tidak berkelanjutan fokus pada tanggap darurat, bukan pencegahan.
- Koordinasi birokrasi lamban dan tumpang tindih kewenangan antara pusat, provinsi, dan daerah.
- Minimnya investasi pada kesiapsiagaan padahal negara dengan ancaman bencana tinggi wajib punya sistem mitigasi yang mapan.
Ini menunjukkan bahwa negara belum menempatkan pengelolaan bencana sebagai prioritas strategis. Yang terjadi adalah pola “pemadam kebakaran”: bergerak ketika bencana sudah terjadi, tetapi kurang serius dalam mencegahnya.
Dalam pandangan Islam, kebijakan yang demikian mengabaikan amanah besar untuk menjaga nyawa rakyat. Negara, menurut ajaran Islam, wajib memastikan keselamatan jiwa warganya dengan cara membangun sistem mitigasi komprehensif, mengatur tata ruang yang aman, melindungi lingkungan dan menyiapkan mekanisme tanggap bencana yang cepat, terstruktur, dan memadai.
Paradigma Islam dalam Melihat Bencana: Ruhiyah dan Siyasiyah
Islam memberikan dua kerangka penting untuk memahami bencana:
- Dimensi Ruhiyah (Spiritual)
Musibah adalah tanda kekuasaan Allah, pengingat, dan bentuk ujian. Namun ini tidak boleh dimaknai fatalistik. Islam tidak menganjurkan sikap pasrah yang menafikan ikhtiar. Justru Islam mengajarkan introspeksi moral, memperbaiki hubungan dengan Allah, menjauhi maksiat terhadap alam dan menegakkan etika sebagai khalifah di bumi. Dengan kata lain, bencana harus menjadi momentum untuk muhasabah.
- Dimensi Siyasiyah (Politik)
Islam menegaskan bahwa pemimpin wajib mengelola ruang, alam, dan sumber daya berdasarkan prinsip adil, amanah,berkelanjutan, berorientasi keselamatan rakyat, dan menjaga keseimbangan ekologis.
Kerusakan lingkungan karena kelalaian pemerintah, apalagi pembiaran terhadap korporasi rakus, adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah kekuasaan.






