Kiat Islam Menghindari Pelit, Dendam, dan Sombong
Oleh: Desti Ritdamaya, Praktisi Pendidikan
“Mens oppressa, corpus respondet.” Ungkapan populer ini bermakna bahwa pikiran yang tertekan membuat tubuh ikut merespons.
Ungkapan tersebut sangat relevan dengan realitas kehidupan, terlebih lagi dalam dinamika kehidupan modern saat ini.
Jurnal kesehatan prestisius dunia, The Lancet, melansir pada 2023 bahwa terdapat 1,2 miliar orang mengidap mental disorder (gangguan mental). Jumlah ini terus meningkat tajam dari tahun ke tahun.
Gangguan mental telah terbukti secara medis dapat memicu berbagai penyakit fisik, bahkan dalam tingkatan yang kronis.
Jika ditelaah secara lebih mendalam, beberapa dari gangguan mental tersebut berakar dari karakter individualis ekstrem yang mengutamakan kepentingan pribadi. Karakter seperti ini tumbuh subur dalam atmosfer sistem sekuler kapitalistik.
Sistem tersebut cenderung mengagungkan materi seperti harta, jabatan, takhta, dan popularitas. Standar kebahagiaannya pun diukur berdasarkan pemuasaan fisik dan materi secara pribadi.
Tentu saja karakter individualis ini terbentuk dari aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) yang tidak berstandar pada aturan Islam.
Penyakit Pelit, Dendam, dan Sombong Membinasakan
Beberapa gangguan mental seperti sifat pelit, dendam, dan sombong kerap kali menjadi akar masalah dalam kehidupan sosial seseorang. Tak jarang sikap-sikap buruk tersebut memunculkan konflik, bahkan terhadap lingkungan keluarga sendiri.
Dampak buruknya jelas akan mendatangkan dosa serta mengundang kemurkaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pelit, kikir, dan bakhil pada dasarnya bermakna sama, yaitu berat hati mengeluarkan harta maupun tenaga untuk kebaikan. Sifat pelit untuk diri sendiri berarti kebutuhan pribadi tidak dipenuhi walaupun sebenarnya ia mampu.
Kondisi tersebut muncul akibat adanya kecemasan berlebih akan kekurangan harta di masa depan.
Sementara itu, pelit untuk orang lain berarti menyembunyikan nikmat harta karunia Allah agar tidak diketahui sesama. Hal ini terjadi karena pelaku hanya ingin menikmati karunia tersebut seorang diri.
Ia merasa telah lelah berusaha dan bekerja sendiri, sehingga tidak rela jika orang lain ikut menikmati hasil usahanya. Akibatnya, ia tidak peduli dengan kondisi sesama dan hanya mementingkan kebahagiaan pribadi yang memicu stres.
Dendam bermakna kebencian mendalam yang tersimpan lama dalam jiwa disertai dengan sikap ingin membalas keburukan orang lain. Sikap ini biasanya bermula dari ketersinggungan atau sakit hati atas perkataan dan perbuatan orang lain.






