NASIONAL

Cucun Syamsurijal Hanya Minta Maaf Soal MBG Tak Perlu Ahli Gizi, Tidak Minta Maaf atas Ucapannya yang Arogan

Cucun memastikan bahwa usulan perubahan istilah dari ahli gizi menjadi quality control atau pengawas makanan bergizi yang sempat mencuat masih sebatas wacana.

“Usulan perubahan dari ‘ahli gizi’ menjadi ‘quality control’ atau ‘Pengawas Makanan Bergizi’ masih sebatas wacana dan belum tentu diberlakukan,” kata dia.

“Dalam video yang beredar, pembahasan tersebut merupakan respons atas usulan yang meminta agar embel-embel ‘ahli gizi’ tidak digunakan,” sambung dia.

Menurut dia, penghilangan nomenklatur justru berpotensi membuka jalan bagi pihak yang tidak memiliki kompetensi gizi untuk memasuki ruang profesi tersebut. Oleh karena itu, Cucun menilai, penegasan nomenklatur profesi penting untuk menjaga standar layanan gizi dan pangan bergizi.

“Oleh karena itu, penegasan nomenklatur profesi menjadi penting untuk menjaga kepastian peran serta kualitas layanan gizi dan pangan bergizi,” ujar dia.

Cucun pun mengapresiasi perhatian publik terkait isu tersebut dan memastikan setiap masukan ke DPR RI akan dikaji dan disampaikan kepada pemerintah.

“Setiap aspirasi yang disampaikan sangat berarti bagi penguatan program Presiden RI Prabowo yang begitu luar biasa dalam mempersiapkan masa depan dan kualitas generasi penerus bangsa,” pungkas dia.

Sayangnya, permintaan maaf Cucun ini dinilai kurang. Ia hanya meminta maaf soal polemik ahli gizi dalam MBG, tetapi tidak minta maaf atas ucapannya yang oleh warganet dinilai arogan.

Seorang warganet melalui akun @Jahenanas menulis komentar, Cucun tidak minta maaf atas: (1) Arogansinya mengatakan “Semua urusan di republik ini, saya tinggal pegang palu, selesai”. (2) Menghardik orang yang menyampaikan aspirasi secara terbuka dan sopan dengan tuduhan arogan dan argumen “kalau tidak belajar pemerintahan tidak boleh komentar. “

Awal Polemik Ahli Gizi dan Arogansi Cucun

Sebagai informasi, polemik bermula ketika seorang peserta Forum Konsolidasi SPPG se-Kabupaten Bandung menyinggung persoalan BGN yang kesulitan mencari ahli gizi untuk ditempatkan di SPPG.

Peserta itu mengusulkan agar istilah ahli gizi tidak dipakai apabila tenaga yang direkrut BGN untuk SPPG tidak memiliki latar pendidikan gizi.

“Jika memang pada akhirnya tetap ingin merekrut dari non-gizi, tolong tidak menggunakan embel-embel ahli gizi lagi,” ujar peserta tersebut. Dia menyarankan agar posisi itu cukup disebut pengawas produksi dan kualitas atau tenaga QA/QC.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button