IBRAH

Duduk di Kursi Orang Lain

Rahman akhirnya memahami sesuatu yang sederhana: empati bukan sekadar merasa iba. Empati adalah kesediaan untuk berpindah kursi—walau hanya sebentar. Duduk di kursi orang lain tidak otomatis menghapus masalah kita, tapi ia mengubah cara kita memandangnya. Masalah tetap ada, tetapi ukurannya menjadi lebih jujur.

Dalam masyarakat yang gemar membandingkan diri—di media sosial, di kantor, di meja makan—ungkapan ini seperti rem darurat. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan lomba penderitaan, dan kebahagiaan bukan statistik. Ia juga mengajarkan kerendahan hati: bahwa apa yang kita anggap beban, bisa jadi adalah impian orang lain.

Mungkin kita tidak selalu bisa berpindah kursi secara fisik. Tapi kita bisa melakukannya secara batin. Dengan mendengar tanpa menyela. Dengan menahan keluhan sebelum diucapkan. Dengan bertanya, bukan menghakimi.

Di halte tua itu, Rahman akhirnya berdiri. Ia tidak menjadi orang baru. Masalahnya tidak lenyap. Uangnya tetap terbatas, pekerjaannya tetap menumpuk. Tapi ada sesuatu yang berubah: ia tahu bahwa hidupnya, dengan segala keluhannya, masih punya sisi yang patut disyukuri. Dan mungkin, di suatu sudut kota, ada seseorang yang berharap bisa duduk di kursinya—meski hanya sebentar.

Dan di situlah esensi ungkapan itu bekerja: bukan untuk membungkam keluhan, melainkan untuk melunakkannya. Agar manusia tetap mengeluh, tapi tidak lupa bersyukur. Agar kita tetap duduk di kursi kita, sambil sesekali—dengan rendah hati—mencoba duduk di kursi orang lain. []

*Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.

Laman sebelumnya 1 2
BACA JUGA
Close
Back to top button