RESONANSI

Dunia Akui Palestina, tapi Perlakukan Orang Palestina seperti Tak Bernegara

Kisah seorang pengungsi Palestina yang terjebak dalam tahanan ICE menjadi ilustrasi tragis dari absurditas ini.

Mohammad masih bersikeras ingin kembali ke Gaza. Ia menolak dideportasi ke negara lain. Ia tetap ditahan oleh ICE. Pengacara menjelaskan bahwa ada insentif finansial untuk memperpanjang penahanan, karena fasilitas swasta menerima bayaran harian per tahanan. Bahkan dengan keputusan pengadilan, pembebasan sering kali tertunda.

Akhirnya, kisahnya bukan hanya tentang satu orang yang gagal mendapatkan suaka. Bukan pula hanya tentang penolakan berkelanjutan AS untuk mengakui Palestina sebagai negara.

Ini adalah tentang arti menjadi tanpa kewarganegaraan di dunia yang menuntut dokumen sebelum memberi martabat. Tentang bagaimana “rumah” bisa menjadi sekaligus luka dan impian. Bagi orang Palestina dari Gaza, mimpi kebebasan dan martabat runtuh di pusat detensi dengan cahaya neon, dan deportasi berubah menjadi perjalanan menuju pintu tertutup lain dan masa depan kelam.

Pengadilan bisa menandatangani dokumen, otoritas imigrasi bisa mengawal orang ke pesawat, tetapi tak ada otoritas yang bisa menghapus blokade yang mengurung Palestina, atau kebijakan yang menolak rakyatnya hak untuk kembali dan bergerak bebas. []

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button