Empat Cara Mendidik Anak di Rumah
Bogor (Suaraislam.id) – Aktivis muslimah Ustazah Siti Aisyah menegaskan bahwa setidaknya ada empat cara mendidik anak di dalam rumah. Hal tersebut ia sampaikan dalam Kajian Muslimah Salihah bertema Rumah, Tempat Pertama dan Utama Mendidik Anak di Depok pada awal Agustus lalu.
Keempat cara tersebut meliputi:
Pertama, rumah hendaknya dipenuhi dengan suasana keimanan. “Biasakan salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, mengucapkan salam, berdoa sebelum dan sesudah beraktivitas, serta membiasakan anak berzikir kepada Allah Swt. Nilai-nilai agama tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus menjadi budaya dalam keluarga,” terangnya di hadapan 23 jemaah.
Kedua, biasakan anak memiliki akhlak mulia. “Ajarkan berkata jujur, meminta maaf ketika salah, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menjaga kebersihan, serta bertanggung jawab terhadap tugas-tugas kecil di rumah. Kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang akan membentuk karakter yang kuat,” jelasnya.
Ketiga, membangun komunikasi yang hangat. “Anak membutuhkan telinga yang mau mendengar sebelum membutuhkan nasihat. Orang tua hendaknya meluangkan waktu berbincang, mendengarkan cerita, memahami perasaan anak, dan menjadi tempat pulang yang paling nyaman. Rumah yang dipenuhi kasih sayang akan melahirkan anak yang memiliki rasa aman dan percaya diri,” bebernya.
Keempat, tanamkan kedisiplinan sejak dini. “Disiplin tetap diperlukan. Kasih sayang bukan berarti membiarkan semua keinginan anak dipenuhi. Anak perlu belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Disiplin yang diberikan dengan penuh hikmah akan membentuk pribadi yang bertanggung jawab, bukan pribadi yang takut,” terangnya.
Peran Kekompakan Orang Tua
Dari seluruh langkah tersebut, kunci keberhasilan pendidikan anak terletak pada kekompakan kedua orang tuanya. “Tidak bisa timpang, ayah saja yang mendominasi atau ibu saja. Keduanya adalah satu tim yang saling melengkapi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ayah berperan sebagai pemimpin keluarga yang memberikan arah, keteladanan, perlindungan, dan nafkah yang halal. Kehadiran ayah bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi, melainkan juga kebutuhan emosional dan spiritual anak. “Anak membutuhkan sosok ayah yang dekat, mau mendengar, membimbing, dan menunjukkan bagaimana menjadi pribadi yang bertanggung jawab,” sebutnya.
Prioritas Akhlak di Atas Akademik
Belakangan ini banyak orang tua sibuk mengejar prestasi akademik anak dengan mengikutsertakan mereka dalam berbagai kursus bahasa asing, bimbingan belajar, hingga pelatihan robotik. Akademik memang penting, tetapi jangan sampai melalaikan hakikat utama penciptaan manusia, yaitu menjalani kehidupan dengan ketaatan kepada Allah Swt.
“Pendidikan akhlak jauh lebih utama. Kecerdasan tanpa iman dapat melahirkan kesombongan, sedangkan ilmu tanpa akhlak dapat menjadi sumber kerusakan. Sebaliknya, ketika iman, ilmu, dan akhlak tumbuh bersama, lahirlah generasi yang membawa manfaat bagi umat,” pungkasnya.[]
Reporter: Mega Marlina






