RESONANSI

Era AI, Guru Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya yang Tahu

Oleh: Fajri, S.Pd.I., M.Ag., Gr., Guru dan Alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Selama berabad-abad, sekolah berdiri di atas sebuah asumsi yang nyaris tak pernah terbantahkan, yaitu guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Murid datang ke sekolah untuk memperoleh informasi dari guru dengan buku pelajaran sebagai pelengkap dan ruang kelas sebagai pusatnya.

Hari ini, asumsi tersebut tidak lagi sepenuhnya berlaku bagi dunia pendidikan. Seorang siswa cukup membuka telepon genggamnya lalu bertanya kepada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memperoleh penjelasan secara sistematis dalam hitungan detik.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sekolah kehilangan monopoli atas informasi. Pertanyaan mendasar yang muncul kini bukanlah apakah AI akan menggantikan guru, melainkan apa makna menjadi seorang guru ketika pengetahuan telah tersedia di mana-mana.

Selama ini kewibawaan guru sering kali dibangun di atas asumsi bahwa gurulah orang yang paling mengetahui segala hal. Ketika sumber pengetahuan menjadi tidak terbatas, dasar kewibawaan itu otomatis bergeser karena peserta didik memiliki akses yang setara terhadap informasi.

Perubahan terbesar yang dibawa AI bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, melainkan mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Namun, perubahan mendasar tersebut tidak seharusnya ditakuti oleh para pendidik.

Situasi ini justru menjadi kesempatan bagi profesi guru untuk kembali pada hakikatnya. Pendidikan tidak pernah berhenti pada penyampaian informasi semata, melainkan pada pembentukan pemahaman.

Informasi dapat dicari dan pengetahuan dapat dipelajari, tetapi kemampuan berpikir tidak lahir hanya karena seseorang memiliki banyak jawaban. John Hattie melalui karyanya, Visible Learning (2009), menunjukkan bahwa faktor terbesar keberhasilan belajar adalah kualitas interaksi antara guru dan peserta didik.

Pendiri Khan Academy, Salman Khan, juga menegaskan bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai asisten belajar, bukan pengganti guru. Dengan bantuan AI, guru memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing, memberi umpan balik, memotivasi, dan mendampingi proses belajar siswa.

Peran Baru Guru dan Tantangan Model Pembelajaran

Sebagai guru, saya mulai melihat perubahan paradigma tersebut di dalam ruang kelas. Saat siswa berkata, “Pak, ChatGPT menjelaskan seperti ini,” situasi itu bukanlah ancaman terhadap otoritas, melainkan sebuah peluang emas.

Tugas guru hari ini bukan lagi menjadi sosok yang selalu memiliki jawaban. Tugas pendidik adalah membantu peserta didik menguji akurasi, kepercayaan sumber, sudut pandang etis, serta membangun cara berpikir kritis (critical thinking).

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Tujuan sebesar itu jelas tidak mungkin dicapai hanya dengan menghadirkan teknologi secanggih apa pun.

AI dapat membantu siswa memperoleh jawaban secara cepat, tetapi AI tidak dapat menanamkan kejujuran, integritas, maupun empati sosial. Nilai-nilai karakter tersebut hanya tumbuh melalui relasi antarmanusia, keteladanan, dialog, dan pengalaman belajar nyata di sekolah.

1 2Laman berikutnya
Back to top button