Hamas Sebut Yayasan Berbasis Amerika GHF Terlibat Kejahatan Perang
Gaza (SI Online) – Gerakan Perlawanan Islam Hamas mendesak pengadilan internasional untuk mengadili pihak-pihak yang bertanggung jawab atas apa yang disebut Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Foundation/GHF), yang dituding melakukan kejahatan perang terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza.
Dalam pernyataan resminya, Hamas menyebut bahwa keputusan yayasan berbasis Amerika tersebut untuk mengakhiri operasinya di Gaza muncul setelah serangkaian pembantaian harian sepanjang perang, di mana mekanisme distribusi bantuan yang diterapkan GHF justru berkontribusi pada tewasnya warga Palestina yang kelaparan ketika mencari makanan.
Hamas menilai penutupan GHF sebagai “langkah yang pantas bagi sebuah organisasi yang runtuh bersama proyek genosida dan rekayasa kelaparan yang dijalankan dengan bermitra bersama pendudukan Zionis”.
Distribusi Bantuan Berujung Tewasnya Warga Sipil
Sejak memasuki Jalur Gaza, GHF dituding telah berubah menjadi bagian dari aparat keamanan pendudukan, menggunakan metode distribusi yang dianggap tidak manusiawi dan menciptakan kondisi berbahaya bagi warga sipil. Ribuan warga Gaza gugur atau terluka akibat tembakan penembak jitu dan serangan yang terjadi ketika mereka berusaha mendapatkan makanan—situasi yang menurut Hamas memperjelas keterlibatan yayasan tersebut dalam kejahatan genosida.
Hamas menambahkan bahwa rakyat Palestina memandang GHF sebagai simbol kegagalan pendudukan dan para mitranya dalam memaksakan kebijakan fait accompli. Proyek-proyek yang bekerja sama dengan pendudukan, kata Hamas, pada akhirnya akan runtuh karena “dibangun atas ketidakadilan, tirani, dan perendahan martabat manusia”.
Desakan Internasional untuk Pertanggungjawaban
Gerakan tersebut meminta lembaga-lembaga hukum dan pengadilan internasional untuk mengadili organisasi itu dan para penanggung jawabnya, guna mencegah tragedi serupa terulang dan melindungi umat manusia dari “terorisme internasional yang terorganisir”.
995 Warga Tewas akibat Mekanisme Bantuan yang Dinilai Memalukan
Sejak 27 Mei, Israel — dengan dukungan Amerika Serikat — memberlakukan rencana distribusi bantuan terbatas melalui GHF. Mekanisme itu memaksa warga Palestina menghadapi pilihan tragis: mati kelaparan atau mati ditembak saat mencoba mengambil bantuan.
Statistik dari Kantor Media Pemerintah mencatat bahwa tindakan represif selama proses distribusi bantuan telah mengakibatkan 995 warga Palestina gugur, lebih dari 6.000 orang terluka, dan 45 orang hilang.
PBB dan Organisasi HAM Tolak Terlibat
Sejak awal, Perserikatan Bangsa-Bangsa serta sejumlah organisasi internasional dan lembaga hak asasi manusia menolak bekerja sama dengan mekanisme GHF. Mereka menilai sistem tersebut tidak adil, berbahaya bagi warga sipil, dan merupakan mekanisme yang “memalukan” dalam penyaluran bantuan kemanusiaan.
Penolakan global tersebut semakin memperkuat kecaman internasional terhadap cara Israel menangani bantuan kemanusiaan, yang dinilai memperburuk krisis kelaparan dan situasi kemanusiaan ekstrem di Gaza.
sumber: infopalestina






