Menhan Israel Terang-terangan Agendakan Pembersihan Etnis di Gaza
Tel Aviv (Suaraislam.id)-Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan komitmennya untuk melakukan pembersihan etnis (ethnic cleansing) di Jalur Gaza melalui skenario pengusiran massal warga Palestina.
Katz menyatakan pemerintah akan mengeksekusi rencana pengosongan wilayah tersebut “pada waktu dan dengan cara yang tepat”.
Baca juga: Ambisi Gila Netanyahu: Perintahkan Tentara Caplok 70 Persen Wilayah Gaza
Pernyataan provokatif ini disampaikan pada Rabu, bertepatan dengan pengumuman pembunuhan komandan militer Hamas, Mohammed Odeh.
Ambisi pengusiran massal ini melanggar poin gencatan senjata yang diajukan Donald Trump dan ditandatangani Israel tahun lalu.
Meski demikian, rezim Israel terus mempromosikan wilayah Gaza tanpa warga Palestina sejak Trump pada awal tahun lalu mengusulkan pembersihan Gaza demi rekonstruksi. Bahkan, tahun lalu Israel telah membentuk biro khusus untuk memfasilitasi “emigrasi sukarela” satu arah bagi warga Gaza.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia dan ahli hukum di Israel menegaskan bahwa istilah “migrasi sukarela” yang digunakan Katz hanyalah kedok untuk menutupi kejahatan perang berupa pengusiran paksa.
Association for Civil Rights in Israel tahun lalu menyatakan bahwa tindakan merusak ruang hidup hingga tidak layak huni agar warganya terpaksa pergi adalah bentuk evakuasi paksa yang ilegal.
Namun, Katz bergeming dan menegaskan melalui unggahan di media sosial bahwa agenda pengusiran warga sipil ini akan berjalan beriringan dengan misi menumbangkan kekuasaan Hamas di Gaza.
Dengan pemilu yang harus digelar sebelum akhir Oktober, Benjamin Netanyahu dan sekutu politiknya sengaja mengeksploitasi isu ini demi menarik pemilih.
Mairav Zonszein, analis senior isu Israel-Palestina di International Crisis Group, menilai bahwa di tengah meredanya situasi di Iran dan Lebanon, menggunakan kekuatan militer dan mengembuskan isu pembersihan etnis di Gaza justru menjadi komoditas politik yang efektif untuk mendulang suara di internal Israel. []
Sumber: The Guardian






